Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH lima tahun dalam penguasaan kelompok perompak Somalia, 26 sandera termasuk empat orang asal Indonesia tidak bisa menahan tangis rasa haru dan bahagia begitu mendarat di Banda Udara Intenasional Jomo Kenyatta di Nairobi, Kenya, Minggu (23/10) waktu setempat.
"Saya sangat, sangat bahagia. Sungguh, saya sangat, sangat senang. Untuk PBB, untuk Mr John (negosiator), untuk seluruh dunia, terima kasih kepada Anda semua," kata salah seorang sandera, Sudi Ahman.
Kegembiraan tampak dari raut wajah mereka.
Sebagian dari mereka tidak bisa menahan rasa haru dan terus berpelukan.
Betapa tidak?
Hampir lima tahun mereka ditahan perompak yang tidak memberi mereka makan.
"Kami hanya diberi air minum dalam jumlah sedikit. Kami seperti mayat hidup," ujar Arnel Balbero, anak buah kapal (ABK) asal Filipina.
Untuk bertahan hidup, Arnel mengisahkan, ia dan kawan-kawannya bahkan harus memakan tikus.
Tak peduli lagi dengan apa yang menjadi santapan, mereka memilih bertahan hidup.
"Iya, tikus itu kami masak di hutan. Kami makan apa saja. Kamu lapar, ya kamu makan," tuturnya.
Sejak kapal ikan Naham III dibajak pada 26 September 2012 di Laut Seychelles, mimpi buruk mereka dimulai.
Kapten kapal mereka tewas hari itu ketika melawan para perompak.
Penyakit malaria yang menyerang dua tahun kemudian menewaskan dua ABK,
"Mereka dalam keadaan kurang gizi. Seorang memiliki luka bekas tembakan peluru di kakinya, seorang lagi mengalami stroke, sedangkan seorang lainnya menderita diabetes," ungkap John Steed, koordinator lembaga Hostage Support Partners (HSP) sekaligus juru runding yang membantu pembebasan para ABK.
Steed ialah purnawirawan angkatan bersenjata Inggris yang terlibat dalam banyak upaya pembebasan 'sandera yang terlupakan'.
Biasanya kelompok sandera itu merupakan para nelayan kecil yang tidak memiliki asuransi dan berada dalam sekapan perompak untuk waktu yang lama.
"Kami telah mengupayakan pembebasan mereka selama 4,5 tahun. Betapa sangat menyenangkan bisa membawa mereka pulang dan menyerahkan mereka ke kedutaan besar dan keluarga mereka," kata Steed yang tidak membeberkan lebih jauh apakah pembebasan sandera tersebut disertai sejumlah uang tebusan atau tidak.
Tahun 2011 merupakan masa puncak dari jumlah pembajakan oleh perompak Somalia.
Sebanyak 32 kapal dibajak dan 736 orang disandera.
Angka itu menurun pada 2015, dengan hanya 306 orang mengalami pembajakan. Saat ini masih ada 10 orang asal Iran dan tiga asal Kenya yang disandera perompak Somalia.
Di antara mereka ada seorang wanita yang kini sedang menderita sakit parah dan mengalami kelumpuhan. (AFP/BBC/Ths/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved