Relokasi Pengungsi Berjalan Tertib

25/10/2016 07:00
Relokasi Pengungsi Berjalan Tertib
(AP/EMILIO MORENATTI)

LEBIH dari 1.200 petugas kepolisian dan pejabat Prancis memulai operasi pengosongan kamp penampungan migran di Kota Calais, Prancis, Senin (24/10).

Kamp yang dikenal dengan sebutan Jungle itu sudah menjadi permukiman yang kumuh bagi 7.000 migran.

Para pengungsi dan migran mengantre dengan tertib untuk diproses.

Sebanyak 60 pengawas bertugas mengevakuasi mereka ke pusat-pusat pengungsi di berbagai titik di penjuru Prancis.

Selain proses pemindahan migran, pemerintah Prancis pun berencana menyelesaikan pembongkaran kamp hari ini.

Pihak berwenang Prancis mengatakan mereka tidak ingin menggunakan kekerasan untuk merelokasi para migran.

Namun jika ada penolakan, mereka terpaksa turun tangan.

Tetap ada kekhawatiran dari berbagai pihak bahwa gelombang penolakan dari para pengungsi akan kembali muncul seperti pada peristiwa bentrok sepanjang akhir pekan.

Ketika itu, para pengungsi yang masih berharap dapat menyeberang ke Inggris melalui kota pelabuhan itu mengamuk saat Prancis mengumumkan Jungle akan resmi ditutup, paling lambat kemarin.

Pada Sabtu (22/10), polisi Prancis membagikan sekitar 10 ribu selebaran yang berisi perintah pengosongan kawasan itu sebelum dibuldozer.

Dalam rencana semula, para migran rencananya dikumpulkan di hangar pada Minggu (23/10) pagi untuk kemudian diberangkatkan menggunakan bus ke titik-titik lain dan diberikan kesempatan untuk meminta suaka.

Namun, gelombang penolakan berbuah lemparan batu ke arah polisi oleh sekitar 50 orang migran pada Sabtu (22/10) malam.

Polisi pun membalas mereka dengan pentungan dan gas air mata.

Menurut laporan BBC, kondisi selama proses pemindahan berlangsung tertib dan aman, terlepas dari peristiwa pada akhir pekan.

Para migran berbaris dalam beberapa antrean untuk memisahkan kelompok yang lemah fisik atau kelompok keluarga agar tidak terpisah.

"Kami telah meyakinkan sebagian orang untuk menerima akomodasi dan memupuskan impian mereka tentang pergi ke Inggris. Ini adalah bagian tersulit," ujar Didier Leschi, kepala Kantor Imigrasi Prancis OFII.

Salah satu asosiasi migran di Prancis, L'Auberge des Migrants, percaya bahwa sekitar 2.000 migran yang bermukim di Jungle menolak direlokasi.

Mereka ingin tetap berada di Calais agar lebih mudah menyeberang ke tanah impian mereka, Inggris.

Salah seorang migran asal Sudan berteriak, "Mimpi kita sudah berakhir." Hal itu mengindikasikan kekecewaan para migran yang masih berharap dapat pergi ke Inggris.

Para migran yang sebagian besar bisa berbahasa Inggris itu menganggap hidup mereka akan lebih mudah di sana ketimbang di negara-negara Eropa lain dengan bahasa beragam.

Sebagian besar migran percaya prospek lapangan pekerjaan akan lebih baik di Inggris.

Mereka pun percaya bahwa di sana bisa mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan. (AFP/Nat/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya