Thailand kian tidak Menentu

Haufan hasyim Salengke
15/10/2016 07:22
Thailand kian tidak Menentu
(AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)

KINERJA sektor keuangan Thailand, kemarin, memang pulih setelah nilai saham dan mata uang negara itu sempat merosot dalam beberapa hari terakhir.

Penyebabnya kondisi kesehatan Raja Bhumibol Adulyadej yang semakin mengkhawatirkan.

Kesehatan tidak stabil Raja Negeri Gajah Putih telah memberi dampak bagi perekonomian.

Namun, sehari setelah pengumuman Raja Bhumibol meninggal, indeks saham utama bergerak naik lebih dari 4%.

Mata uang baht pun kembali menguat terhadap dolar AS.

Namun, para analis memperingatkan masa depan Thailand tetap akan berada dalam ketidakpastian.

Pasalnya, setelah Raja Bhumibol meninggal, negara tersebut belum memiliki sosok pemersatu.

Bhumibol yang bergelar Raja Rama VII tersebut dikenal mampu membawa Thailand dalam mengatasi perekonomian yang diguncang sejumlah isu politik dan kudeta militer selama satu dekade.

Raja Bhumibol meninggal pada usia 88 tahun, Kamis (13/10).

Dia telah mampu menciptakan stabilitas.

Bahkan ia telah mengubah Thailand dari negara agraris kecil menjadi negara maju di Asia Tenggara.

Namun, turbulensi politik termasuk protes jalanan massal diselingi dengan dua kudeta militer telah membalikkan Thailand menjadi salah satu negara yang paling lambat pertumbuhan ekonominya.

"Ada risiko bahwa kematian raja bisa membuat ketegangan politik menyala dan memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi," demikian analisis dari Capital Economics.

"Stabilitas pasar akan dikaitkan dengan suksesi kerajaan yang mulus."

Tunda suksesi

Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn diharapkan segera mengumumkan menjadi suksesor Bhumibol.

Namun, Perdana Menteri (PM) Thailand Prayuth Chan-ocha mengatakan Vajiralongkorn justru menundanya.

Masa depan Thailand masih diraba-raba dan berada dalam ketidakpastian.

"Semua mata sekarang tertuju ke proses suksesi kerajaan," tegas para peneliti.

Para analis memperingatkan gambaran jangka panjang Thailand akan tidak menentu.

Penyebabnya masalah polarisasi dipicu sikap militer yang membungkam kegiatan politik dan perbedaan pendapat.

Bower Group Asia, sebuah konsultan bisnis, mengatakan konflik laten akan muncul kembali apabila militer memutuskan untuk mengadakan pemilu yang dijanjikan pada akhir 2017.

Menurut data pemerintah, ekonomi Thailand tumbuh 2,8% pada tahun lalu dengan mengandalkan pariwisata dan peningkatan belanja infrastruktur.

Padahal, pada 2012, pertumbuhan mencapai 6,5%.

Sektor pariwisata yang menjadi andalan akan mendapat pukulan.

Pasalnya, pemerintah telah menetapkan masa berkabung nasional selama satu tahun.

Pemerintah telah mengimbau atau meminta masyarakat untuk menahan diri dari melakukan kegiatan hiburan selama satu bulan.

Padahal, kehidupan malam dan pesta di pantai-pantai di selatan negara monarki itu terkenal marak.

Corak kehidupan malam dan pesta pantai telah membuat industri pariwisata Thailand mampu memberi kontribusi signifikan di saat sektor-sektor lainnya menurun.

Economist Intelligence Unit memprediksi Thailand akan mengalami perlambatan ekonomi selama 12 bulan ke depan. (AFP/Telegraph/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya