Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA Serikat, kemarin (Kamis, 13/10), mengebom tiga situs radar yang dikontrol pemberontak Houthi di kawasan pesisir Laut Merah di Yaman. Serangan rudal jelajah Tomahawk itu diluncurkan dari kapal perusak USS Nitze dan diperintahkan secara langsung oleh Presiden AS Barrack Obama. Pentagon menyebut serangan itu sebagai upaya pertahanan diri AS.
"Hasil taksiran awal menunjukkan situs-situs itu hancur. Serangan preventif itu dilakukan untuk melindungi personel, kapal, dan kebebasan navigasi kami di jalur-jalur pelayaran penting," kata Sekretaris Pers Departemen Pertahanan AS, Peter Cook, dalam sebuah pernyataan resmi.
Sebelumnya, pasukan AS berada di perairan Yaman untuk memberikan dukungan logistik kepada pasukan koalisi yang dipimpin Arab Saudi. Pasukan koalisi telah berperang melawan kelompok Houthi sejak awal tahun. Namun, itu kali pertama AS menggelar serangan langsung.
Serangan rudal itu merupakan balasan terhadap dua serangan misil gagal terhadap kapal USS Mason dan kapal milik AS lainnya yang beroperasi di Laut Merah dan Bab el-Mandeb, sehari sebelumnya. Dalam kedua serangan itu, misil kubu pemberontak Houthi jatuh ke laut sebelum mencapai target.
"AS akan merespons ancaman selanjutnya ke kapal dan jalur komersial kami, sewajarnya, dan akan terus berupaya menjaga kebebasan navigasi kami di Laut Merah, Bab al-Mandeb, dan tempat lainnya di seluruh dunia," tambah Cook.
Sumber militer Yaman mengatakan rudal AS menghantam situs-situs radar pemberontak di dekat Al-Makha dan Al-Khukha di kawasan barat daya Yaman. Di sisi lain, kantor berita <>Saba yang dikuasai kelompok pemberontak menyebut tudingan AS bahwa milisi Houthi menyerang kapal-kapal perang AS tidak berdasar.
"Klaim tersebut hanya digunakan untuk menjustifikasi serangan militer dan menutupi kejahatan perang yang terus dilakukan terhadap rakyat Yaman," ujarnya.
Koalisi yang dipimpin Arab Saudi mulai menggelar operasi militer sejak Maret tahun lalu setelah kelompok pemberontak menguasai sebagian besar wilayah, termasuk Sanaa, ibu kota Yaman. Gerakan kelompok pemberontak bahkan memaksa pemerintah Presiden Yaman Abedrabbo Mansour Hadi melarikan diri dari ibu kota.
Kubu Houthi mendapat dukungan dari Iran dan pasukan mantan Presiden Yaman, Ali Abdallah Saleh. Di sisi lain, militer AS menyediakan bantuan data intelijen dan logistik bagi pasukan koalisi.
Menurut catatan PBB, konflik di Yaman telah menewaskan lebih dari 6.700 orang, dua per tiga di antara mereka ialah warga sipil, dan menyebabkan tiga juta orang mengungsi. Selama ini AS tidak pernah menggelar serangan langsung terhadap kubu pemberontak karena khawatir dengan kritikan dunia internasional.
Operasi militer di Yaman dikritik secara keras setelah pasukan koalisi melakukan serangan udara ke sebuah upacara pemakaman di Sanaa yang menewaskan lebih dari 140 orang, pekan lalu. Pemerintah AS kemudian mengumumkan akan mengkaji ulang dukungan mereka terhadap pasukan koalisi. (AFP/Ire/I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved