Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
LIMA belas tahun telah berlalu sejak pasukan Amerika Serikat (AS) pertama kali mendaratkan kaki mereka di tanah Afghanistan.
Mereka meluncurkan serangan ofensif sebagai serangan melawan kelompok terorisme.
Invansi militer 'Negeri Paman Sam' dimulai pada 7 Oktober 2001, atau sebulan setelah serangan kelompok Al-Qaeda ke Gedung World Trade Center, di Kota New York, AS, pada 11 September yang menewaskan hampir 3.000 orang.
AS menginvasi Afghanistan dilatarbelakangi keinginan menumpas kelompok Al-Qaeda yang mendalangi serangan 9/11.
Invasi AS ke negara di kawasan Timur Tengah tersebut merupakan intervensi militer terlama setelah invasi ke Vietnam.
Bahkan, operasi militer AS itu telah menelan biaya US$100 miliar. Negara adidaya yang dikenal dengan julukan 'Globocop' itu juga harus kehilangan 2.400 tentara mereka dan 20 ribu tentara lainnya terluka.
Kendati campur tangan militer AS telah berlalu 15 tahun, kondisi Afghanistan masih belum pulih.
Baku tembak dan kekerasan telah menjadi pemandangan keseharian hingga kini, akibat perlawanan terus-menerus dari kelompok militan Taliban.
Pada 2015, pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang dipimpin AS menyerahkan tanggung jawab dan kewenangan keamanan kepada militer Afghanistan.
Namun, Taliban tidak mengendurkan perlawanan terhadap pemerintah dan tentara Afghanistan.
Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok Taliban kembali melancarkan serangan gencar ke sejumlah kota, termasuk kota strategis Kunduz dan Kabul.
Baku tembak dan serangan bom bunuh diri telah menjadi insiden yang rutin terjadi.
Situasi dan kondisi yang tak menunjukkan perubahan itu digambarkan sebagai situasi yang menemui 'jalan buntu'.
Presiden AS Barack Obama pun menunda penarikan sepenuhnya militer AS dari Afghanistan.
Sebanyak 8.400 personel militer AS masih ditempatkan di Afghanistan hingga 2017.
Padahal, sebelumnya Washington hanya ingin menempatkan 5.500 personel militer mereka.
Sejak perang berkecamuk yang melibatkan pasukan NATO di Afghanistan, PBB melaporkan 5.100 warga sipil yang tak berdosa tewas selama 2016.
Sebanyak 1.600 warga sipil tewas pada enam bulan pertama tahun ini.
Pada tahun lalu, tercatat 11 ribu orang tewas dan terluka akibat sejumlah serangan bom, ranjau, dan pertempuran antara kelompok pemberonta dan pasukan yang dibantu pasukan asing di wilayah Afghanistan.
Namun, jumlah korban yang sesungguhnya dari perang 15 tahun itu sulit diketahui.
Pasalnya, kematian penduduk Afganistan pada tahun awal perang tidak tercatat.
PBB mencatat bahwa sejak 2009, sekitar 23 ribu orang tewas dan 41 ribu orang lainnya terluka. (AFP/Ihs/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved