Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Hongaria Viktor Orban mendapat pukulan setelah referendum dalam rangka menolak rencana Uni Eropa terkait dengan kuota pengungsi dinyatakan tidak valid.
Kemenangan telak yang sebelumnya telah diumumkan PM populis Orban dibatalkan karena jumlah pemilih tidak mencapai 50% ambang batas.
Meskipun 99,8% dari jumlah pemilih mendukung upaya Orban menolak rencana Uni Eropa, secara keseluruhan jumlah pemilih tersebut hanya mencapai 43%, yakni 3,3 juta dari 8 juta pemilih yang sah.
Komite Pemilihan Umum mendeklarasikan pembatalan kemenangan referendum setelah penghitungan suara pada Minggu (2/10) malam.
Tokoh oposisi dari koalisi Demokrat Ferenc Gyurcsany mengatakan Orban akan kalah.
Menurutnya, pendukung Orban akan surut setelah kelompok-kelompok hak asasi manusia menudingnya telah mengobarkan ketakutan antimig-ran, padahal jumlah pencari suaka di Hongaria hanya sekian ratus.
Namun, Orban meremehkan seberapa penting akibat dari jumlah pemilih yang rendah itu.
Gyurcsany mengatakan jumlah pemilih yang rendah menunjukkan bahwa sebagian besar warga tidak mendukung pemerintahan Orban.
Dia mengatakan akan mengubah konstitusi Hongaria untuk membuat hasil referendum itu sebagai keputusan yang mengikat.
Hongaria tidak mau menerima 1.294 pengungsi yang ditempatkan di wilayah mereka berdasarkan skema yang dirancang Uni Eropa.
Negara itu lebih memilih bergabung dengan Slovakia untuk melakukan perlawanan hukum terhadap kebijakan tersebut.
Usulan kuota migran Uni Eropa dipelopori Kanselir Jerman Angela Merkel dan disetujui sebagian besar pemerintah di Uni Eropa setelah melalui perdebatan sengit tahun lalu.
Orban hadir sebagai pemimpin yang mengusung perlawanan terhadap kebijakan 'pintu terbuka' terhadap para pengungsi itu.
Pejabat Uni Eropa telah memperingatkan bahwa referendum yang dilakukan Hongaria telah mengancam perpecahan lebih parah bagi Uni Eropa setelah sebelumnya dilemahkan Inggris.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved