Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA kurang lebih 10 tahun lamanya, Miriam Vanegas tidak melihat putranya, Pablo Esteban, setelah dia dibawa pasukan pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) ke sebuah padang gurun di Kolombia.
Namun, sekarang pascapenandatanganan kesepakatan damai, Miriam begitu bahagianya karena ia bisa kembali berjumpa dengan putranya.
"Dia meninggalkan kami saat dia usia 13 tahun. Mereka membawanya pergi," kata Miriam.
"Saya begitu bahagia ketika melihat dia melalui televisi saat konferensi digelar. Dan saya bergegas menemui dia," lanjutnya.
Mengenakan gaun hitam dengan motif bunga-bunga berwarna biru dan merah muda, Miriam hampir tidak dapat menahan air matanya saat ia ingat momentum mengharukan tersebut.
"Saya harus naik sepeda motor selama 6 jam ke tempat ini," katanya menunjuk lokasi basis FARC di El Diamante, Kolombia barat.
Begitu dia tiba di sana, seorang anak umur 10 tahun mengantar Miriam ke sebuah kamp, tempat dia menemukan anaknya kini sudah menjadi seorang pemuda.
"Saya memeluknya dan saya menangis. Anda tahu, betapa saya sangat bahagia," katanya dengan suara gemetar.
Pada suatu tempat yang terpencil, di sebuah padang rumput, ratusan pejuang FARC berkumpul pada hari Senin lalu itu untuk menyaksikan upacara penandatanganan kesepakatan damai melalui sebuah layar besar.
Mereka kompak bertepuk tangan ketika pemimpin mereka, Timoleon 'Timochenko' Jimenez menandatangani kesepakatan dan berpidato serta menggaungkan transisi FARC untuk sebuah haluan politik.
Kesepakatan damai tersebut pun secara resmi mengakhiri konflik dengan otoritas Kolombia yang diperkirakan telah menewaskan 260 ribu orang, 45 ribu hilang, dan 6,9 juta kehilangan tempat tinggal.
Setelah menyaksikan penandatanganan kesepakatan damai itu, anggota FARC naik ke panggung dan dengan berpakaian serbaputih, mereka menyanyikan lagu FARC dan Ode to Joy.
"Akhirnya, kami memiliki kesempatan kedua," kata seorang Komandan FARC Carlos Antonio Lozada saat menyaksikan peristiwa bersejarah itu.
Perdamaian dan sepak bola
Ada pun anggota FARC David Preciado merayakan penandatanganan kesepakatan damai itu dengan bermain sepak bola dengan rekan-rekannya di kamp.
Dia berlari di sekitar di lapangan penuh lumpur sambil bermain bola.
David harus rela kehilangan lengan kirinya setelah ia ditembak dalam sebuah penyergapan oleh tentara pemerintah Kolombia.
Dia bercerita dulu saat umurnya 19 tahun dan memilih bergabung dengan FARC karena dia menyukai senjata.
"Bermain sepak bola ialah salah satu cara merayakan kemenangan yang kita capai," katanya.
"Pemerintah tidak mengalahkan kami, dan kami tidak mengalahkan mereka. Jadi, 52 tahun kami perang tidak sia-sia," tambahnya.
"Kami menyadari bahwa kami harus maju bersama, bersatu... untuk akhirnya meraih kemenangan, memberikan kekuasaan kepada orang melalui politik."
Dengan kesepakatan tersebut, 7.000 pejuang FARC harus keluar dari kamp-kamp yang ada di hutan dengan perlucutan senjata.
Selain itu, kesepakatan damai memberikan amnesti untuk 'kejahatan politik' yang dilakukan selama konflik, tetapi tidak untuk kekejaman kemanusiaan yang terburuk, seperti pembantaian, penyiksaan, dan pemerkosaan.
Menjelang konferensi FARC minggu lalu, anggota FARC menyambut wartawan dan pengunjung luar lainnya ke kamp mereka.
Mereka bahkan bermain sepak bola dengan para pengunjung yang datang.
"Kami ingin menunjukkan kepada orang bahwa kami bukanlah monster seperti yang dikatakan. Kami ialah juga manusia," kata salah seorang pejuang FARC, Patricia. (AFP/Ths/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved