Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Kolombia Juan Manuel Santos dan pemimpin kelompok pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) Timoleon 'Timochenko' Jimenez datang dari dunia yang berbeda, yakni Santos ialah pengusaha kaya dan politikus, sementara Jimenez ialah anak desa yang kemudian menjadi pemimpin gerilyawan Marxis.
Namun, dari senyuman dan jabat tangan dua bekas musuh bebuyutan itu pada 26 September lalu tersimpul kesepakatan damai, yang mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung setengah abad lamanya.
Santos, 65, memimpin operasi militer atau serangan besar terhadap FARC saat menjabat menteri pertahanan dari 2006 sampai 2009.
Setelah menjadi presiden pada 2010, ia mengubah taktik dan memilih negosiasi untuk mengatasi krisis dengan kelompok gerilyawan itu.
"Dia menjadikan perang sebagai sarana untuk mencapai perdamaian," kata kakak ipar dan penasihat sang presiden, Mauricio Rodriguez.
"Dia melemahkan FARC untuk membuat mereka duduk di meja perundingan," tambahnya.
Mendorong perdamaian memerlukan keberanian, ketekunan, dan strategi.
Hal-hal itulah yang melekat dan menjadi kekuatan Santos.
Meskipun kalangan oposisi sengit mengkritik, Santos mempertaruhkan kepresidenannya demi proses perdamaian.
"Saya tidak mencari tepuk tangan. Saya hanya ingin melakukan hal yang benar," tegas Santos.
Ia kembali memenangi pemilihan presiden pada 2014.
Pemungutan suara itu secara luas dilihat sebagai referendum untuk pembicaraan damai yang dia diupayakan.
Santos ialah keturunan dari keluarga kaya dan berpengaruh dalam politik dan media Kolombia.
Secara politik, Santos menggambarkan dirinya 'ekstrem tengah'.
Ia kuliah di London School of Economics dan memulai kariernya sebagai wartawan yang meliput revolusi Sandinista di Nikaragua.
Dia kemudian beralih ke politik, bertugas di berbagai jabatan kementerian.
Ketidakadilan
Sementara, nama asli Pemimpin FARC ialah Rodrigo Londono. Namun, ia lebih dikenal dengan nama gerilya Timoleon Jimenez dan Timochenko.
Ia lahir dari seorang ibu Kristen dan seorang ayah komunis di Calarca, Quindio, daerah penghasil kopi, pada 22 Januari 1959.
Di tempatnya ini, ia menyadari telah terjadi ketidakadilan sosial di wilayahnya.
"Di sekolah, saya bertanya-tanya mengapa ada beberapa teman sekelas yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan, sementara yang lain hidup boros," kata Timochenko pada suatu kesempatan.
Si gempal berewokan Timochenko, 57, mengatakan buku pertama yang ia baca ketika masih bocah ialah Alkitab, tetapi ia juga membaca karya Karl Marx Manifesto Komunis saat usia 12 tahun.
Intelijen negara mengatakan ia menerima pelatihan militer dan medis di Uni Soviet dan Kuba, meski ia menyangkalnya.
"85% tentang apa yang mereka katakan tentang saya ialah kebohongan," kata dia kepada jaringan televisi Venezuela, Telesur.
Timochenko dikenal ahli strategi dan mantan kepala intelijen di FARC, yang memerangi pasukan pemerintah selama puluhan tahun di hutan-hutan Kolombia.
Dia telah dijatuhi vonis in absentia untuk berbagai serangan yang membuatnya dihukum lebih dari 150 tahun penjara.
Dia mengambil alih kepemimpinan FARC pada 2011 setelah pendahulunya, Alfonso Cano, dibunuh tentara. (AFP/Hym/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved