Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH melewati setengah abad pertempuran berdarah dan empat tahun ketegangan dalam proses negosiasi, sebuah perjanjian damai dicapai antara pemerintah Kolombia dan kelompok pemberontak Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC), 26 September lalu.
Namun, kesepakatan damai itu menjadi tidak pasti setelah dalam referendum yang digelar Minggu (2/10) rakyat Kolombia menolak kesepakatan damai tersebut.
Referendum pada Minggu (2/10) menunjukkan 50,2% penduduk Kolombia memilih menolak perjanjian tersebut dan hanya 49,8% suara yang mendukung perdamaian dengan FARC.
Rakyat Kolombia menolak poin-poin kesepakatan yang salah satunya menjadikan FARC menjadi sebuah partai politik dengan sedikitnya jaminan 10 kursi dalam Kongres Kolombia.
Hasil mengejutkan itu berarti membuat proses perdamaian kini diselimuti ketidakpastian.
Kedua pihak kini harus bekerja keras untuk menyelamatkan kesepakatan itu.
Presiden Juan Manuel Santos yang sebelumnya mengatakan tidak ada rencana B jika perjanjian itu ditolak menyebutkan akan menerima hasil tersebut, tapi akan terus bekerja untuk mencapai perdamaian.
Santos juga mengatakan gencatan senjata yang tengah berlangsung akan terus dilakukan dan telah memerintahkan negosiator untuk berkonsultasi dengan pemimpin FARC untuk menetapkan langkah berikutnya.
"Saya tidak akan menyerah. Saya akan terus mencari perdamaian sampai masa terakhir jabatan saya, karena itulah cara untuk memberikan negara yang lebih baik untuk anak-anak kita," ujar Santos.
Sementara itu, Komandan FARC Rodrigo Londono juga mengatakan FARC akan tetap berkomitmen untuk mengakhiri perang.
Tantangan
Referendum pada Minggu (2/10) itu merupakan salah satu tantangan yang harus diatasi dan ternyata telah ditolak.
Tantangan yang jauh lebih sulit ialah menyediakan keadilan dan kompensasi kepada jutaan korban, sebuah proses yang mengharuskan para pemberontak FARC dan aktor negara yang ingin menghindari hukuman penjara untuk mengakui semua kejahatan perang yang mereka lakukan selama 52 tahun konflik penuh kebrutalan.
Sebagai realisasi awal dari perjanjian damai tersebut, FARC yang diperkirakan memiliki sekitar 7.000 anggota harus menyerahkan semua senjata mereka secara bertahap selama enam bulan kepada tim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) selaku pengamat.
Dalam jangka panjang, kedua belah pihak telah menyusun agenda untuk mempercepat pembangunan perdesaan yang telah lama diabaikan Kolombia, termasuk menangani masalah distribusi lahan yang tidak merata dan membasmi tanaman koka ilegal yang sejak 1980-an menjadi sumber dana FARC.
Presiden Kolombia Juan Manuel Santos dan Komandan FARC, Rodrigo Londono, atau yang dikenal sebagai Timoleon Jimenez atau Timochenko, secara resmi menandatangani perjanjian damai pada Senin (26/9) lalu.
Momen penting tersebut disaksikan sekitar 2.500 pejabat asing dan tamu khusus termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.
Banyak tamu yang semuanya berpakaian putih meneteskan air mata ketika Santos melepas pin berbentuk burung merpati putih yang telah dipakainya selama bertahun-tahun dan memberikannya kepada mantan lawannya, Londono.
Penyerahan pin tersebut menjadi salah satu dari sekian banyak simbolis upacara perdamaian yang juga diisi harapan dan optimisme dari penduduk Kolombia untuk pekerjaan sulit di masa depan dalam menerapkan kesepakatan 297 halaman yang proses negosiasinya memakan waktu hingga empat tahun.
"Sebagai kepala negara dari lahan yang semuanya kita cintai, saya akan menyambut Anda untuk demokrasi," ujar Santos setelah meneriakkan, "Tidak ada lagi perang!"
Londono juga menyebut Santos sebagai mitra yang berani dan menyatakan tidak ada jalan kembali atas keputusan FARC untuk meninggalkan hutan Kolombia.
"Jangan ada keraguan bahwa kami akan ke politik tanpa senjata," ujar Londono yang kemudian mengakhiri pidatonya dengan permohonan maaf.
"Saya minta maaf untuk semua rasa sakit yang telah kami disebabkan," ujar Londono.
Seluruh negeri merayakan perdamaian tersebut dengan sejumlah kegiatan, dari konser perdamaian hingga pesta di jalanan ibu kota, Bogota, tempat upacara penandatanganan tersebut disiarkan langsung di layar raksasa.
Penandatangan tersebut juga disambut dengan tuntutan liar dari sekitar 1.000 anggota FARC di Yari Plains, sebuah daerah terpencil di selatan Kolombia, agar Londono menjadi presiden negeri tersebut.
Diprotes
Namun, momen damai tersebut juga diwarnai sejumlah protes yang salah satunya dari mantan Presiden Avaro Uribe di Cartagena.
Uribe, selama satu dekade pemerintahannya, memaksa FARC untuk duduk di meja perundingan melalui serangan militer ofensif yang didukung AS.
Ratusan pendukung Uribe meneriakkan, "Santos pengecut.
Mereka bersumpah, jika meraih kekuasaan dalam pemilihan presiden pada 2018, mereka akan membatalkan perjanjian yang menurut mereka merupakan pertanda kediktatoran sayap kiri ala Kuba.
Oposisi dalam negeri yang kaku juga akan membuat pelaksanaan perjanjian tersebut menjadi lebih sulit.
Sangat kontras dengan pengakuan yang diberikan dari hampir seluruh dunia, seperti Koordinator Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Federica Mogherini yang mengatakan FARC telah ditangguhkan dari daftar organisasi teroris setelah perjanjian tersebut dicapai.
Meskipun AS belum melakukan hal yang sama, Kerry menyatakan terbuka kemungkinan atas perubahan status FARC.
"Kami jelas siap untuk meninjau dan membuat penilaian ketika fakta terjadi. Kami tidak ingin orang-orang tetap berada di dalam daftar jika mereka tidak termasuk," ujar Kerry.
Ketidakpercayaan penduduk Kolombia terhadap FARC juga begitu mendalam mengingat banyaknya keluarga yang menjadi korban penculikan kelompok pemberontak tersebut.
Mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh dari konflik yang telah memakan korban 220 ribu orang dan memaksa 8 juta orang mengungsi.
Selain dengan FARC, di Kolombia masih terdapat beberapa kelompok pemberontak skala kecil yang memberikan risiko keamanan, seperti Tentara Pembebasan Nasional (ELN) dan kelompok kriminal bersenjata lainnya yang bisa mengisi kekosongan setelah FARC mundur.(AP/AFP/Ihs/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved