EHAB Yassin, 18, hampir saja melewatkan kereta terakhir yang berangkat pada pukul 21.00 dari Budapest, Hongaria, menuju Muenchen, Jerman, Senin (31/8) waktu setempat. Dia bersama ratusan pengungsi Suriah lain berhasil mendapatkan tempat di kereta yang penuh sesak. "Saya tidak percaya akhirnya bisa menuju Jerman," ujar Yassin. Yassin sendiri mengaku tidak peduli ke mana kereta yang ditumpanginya akan membawa dia. "Semoga saja saya bisa sampai di Hamburg," lanjut Yassin yang telah lama sangat ingin ke Jerman.
Hamburg, kata dia, bakal selalu mengingatkannya akan tempat asal dia. "Hamburg dekat dengan laut, sama seperti kampung halaman saya di Latakia," tutur Yassin sembari menyebut kota asalnya di Suriah itu. Bagi para pengungsi dari Suriah dan tempat-tempat lainnya, Stasiun Keleti merupakan tantangan terakhir dalam perjalanan panjang menuju Eropa. "Saya akan menunggu di sini semampu saya," ujar pengungsi lain yang berasal dari Pakistan.
Pria yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengaku pergi dari negaranya karena tidak tahan dengan perlakuan kelompok Taliban yang selalu merampas pendapatan tokonya. "Saya hanya akan pergi dengan menggunakan kereta. Tidak dengan truk!" ucapnya. Bagi para pengungsi yang hendak menuju Eropa, kejadian tragis yang menimpa 71 pengungsi di perbatasan Austria-Hongaria memang menjadi momok. Pekan lalu, pengungsi-pengungsi itu ditemukan tewas di dalam truk yang ditinggalkan. Empat di antaranya anak-anak.
Situasi Stasiun Keleti pada malam itu sangat berbeda. Biasanya petugas keamanan mengecek dan merazia imigran yang tidak memiliki dokumen lengkap. Namun, malam itu, para petugas keamanan hanya mengawasi para pengungsi sehingga para migran bisa naik kereta dengan lebih leluasa. "Sejujurnya saya sedih melihat mereka pergi. Kereta itu sangat berlebihan muatan," ujar Baba Mujhse, 31, relawan yang bekerja membantu para migran di Stasiun Keleti selama beberapa bulan ini.
Di sisi lain, laki-laki keturunan Mesir-Hongaria yang fasih berbahasa Arab itu mengaku sangat senang melihat para migran bisa pergi dari stasiun. "Mereka memiliki kesempatan untuk membangun rumah baru dengan kehidupan yang layak," lanjut Mujhse. Kepada para migran yang tidak mendapatkan kereta terakhir malam itu sehingga harus tetap tinggal di stasiun, Mujhse mengatakan agar mereka tidak khawatir dan yakin bahwa hari esok akan tetap bersahabat bagi para migran. "Saya cuma berharap pemerintah Hongaria tidak akan berubah pikiran esok hari," balas salah satu pengungsi sambil merebahkan badan dan menatap langit malam.