Warga Tuntut Pemerintah Sambut Pengungsi

Andhika Prasetyo
02/9/2015 00:00
Warga Tuntut Pemerintah Sambut Pengungsi
(AP)
SEKITAR 20 ribu warga Austria, Senin (31/8) waktu setempat, turun ke jalanan ibu kota untuk melakukan aksi unjuk rasa menentang tindak kekerasan dan perlakuan tidak baik yang dilakukan pemerintah terhadap para imigran. Dengan memegang spanduk besar bertuliskan 'Sambut para pengungsi' dan 'Kami tidak ingin Eropa menjadi kuburan massal', mereka menyusuri jalan-jalan Kota Wina mulai Stasiun Kereta Westbahnhof hingga pusat kota yang merupakan pusat perbelanjaan.

Tak pelak, aksi demonstrasi tersebut melumpuhkan hampir sebagian besar kegiatan kota yang ditinggali sekitar 1,7 juta jiwa tersebut. Sambil berjalan perlahan, para pengunjuk rasa menyanyikan juga lagu-lagu bertemakan cinta dan kesetiakawanan yang diiringi tepuk tangan sejumlah orang yang menyaksikan aksi tersebut. Saat berpidato di kerumunan, Nadia Rida, yang merupakan penggerak unjuk rasa, menganggap Eropa telah gagal menjalankan kebijakan politik mereka. Rida juga mengatakan Eropa telah melakukan tindakan yang tidak manusiawi terhadap para pengungsi

"Kalian lihat betapa banyaknya kami. Kami juga bisa bergerak mengubah keadaan ini," seru Rida. Para demonstran yang sebagian besar mengenakan pakaian berwarna putih akhirnya berhenti di depan gedung parlemen dan menyalakan lilin sebagai penutup aksi mereka.

Berlangsung damai
Sementara itu, aparat keamanan yang telah bersiaga di sisi jalan lengkap dengan helm, tameng, serta peralatan lainnya memuji aksi unjuk rasa yang berlangsung dengan damai tersebut. "Tidak ada satu pun insiden yang terjadi," ujar juru bicara kepolisian Austria Patrick Maierhofer. Unjuk rasa yang dilakukan warga Austria tidak terlepas dari kejadian buruk yang terus menimpa para pengungsi. Sebelumnya, Jumat (28/8), polisi Austria menemukan sebanyak 71 pengungsi, yang diduga datang dari Suriah, tewas dalam sebuah truk pendingin yang ditinggalkan di jalan protokol Austria. Dari 71 pengungsi yang tewas, empat di antara mereka ialah anak-anak, terdiri atas seorang balita perempuan berusia 2 tahun dan tiga anak laki-laki yang berusia sekitar 8-10 tahun.

Sementara itu, sisanya, 59, ialah laki-laki dan delapan lainnya perempuan. "Sudah cukup banyak yang meninggal dunia. Sudah cukup banyak penganiayaan dan penderitaan," ujar Uskup Agung Wina, Cardinal Christoph Schoenborn, kepada kerumunan. Schoenborn mengatakan hal yang menimpa para pengungsi sangatlah mengerikan. "Sangat mengerikan membayangkan mereka yang tewas di dalam truk, yang empat di antara mereka ialah anak-anak."

Gelombang imigran
Serangkaian gelombang imigran masih terus berdatangan dengan menargetkan Eropa sebagai tujuan utama. Pada Selasa (1/9), beberapa kereta yang berangkat dari Stasiun Keleti, Budapest, Hongaria, dengan membawa ratusan imigran tiba di Stasiun Westbahnhof setelah sempat diberhentikan kepolisian Austria selama beberapa jam. Kebanyakan pengungsi tidak berhenti ketika tiba di Westbahnhof, Sebagian besar dari mereka melanjutkan perjalanan dengan kembali menaiki kereta menuju satu kota lain di Austria, yaitu Salzburg. Bahkan beberapa dari mereka ada yang menuju Muenchen, Jerman. Para imigran yang sebagian besar berasal dari Suriah tersebut sebelumnya sempat terjebak di kamp pengungsi di salah satu stasiun di Budapest.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya