Debat Menjadi Momen Nasional

Irene Harty
27/9/2016 08:25
Debat Menjadi Momen Nasional
(AFP)

DEBAT calon presiden Amerika Serikat antara calon dari Partai Demokrat Hillary Clinton dan calon dari Partai Republik Donald Trump bakal menjadi momen nasional, bukan sekadar peristiwa politik. Debat kedua capres bakal dikenang setiap warga AS yang menyaksikannya.

Sekitar 100 juta orang diperkirakan menyaksikan debat yang digelar di Hofstra University, New York, dan untuk pertama kalinya ditayangkan langsung stasiun televisi.

“Kami tidak pernah menyaksikan besarnya minat seperti ini. Mungkin juga tidak akan pernah lagi,” ungkap Aaron Kall, direktur debat di University of Michigan dan editor buku Debating the Donald.

Trump, 70, telah mengguncang setiap aturan dan konvensi politik di ‘Negeri Paman Sam’ selama masa kampanye presidennya. Karena itu, tak ada alasan bagi dia untuk mengubah gaya ketika seluruh dunia menyaksikan debatnya.

Sebaliknya Clinton, 68, menghadapi lawan yang keras dan tidak bisa diprediksi itu sebagai calon presiden perempuan pertama AS. Ia menghadapi kerasnya pertarungan yang tidak pernah dialami calon presiden AS sebelumnya.

Dia akan membuat sejarah sebagai perempuan pertama dalam sejarah negeri adidaya itu yang menjalani debat presiden. Faktor itu bisa mengubah dinamika pertunjukan debat presiden sebelumnya yang selalu didominasi pria.

“Itu (debat) titik balik. Trump adalah kandidat yang telah menolak semua konvensi untuk mendekati debat ini. Sungguh tidak bisa diprediksi apakah dia akan terikat dengan konvensi debat. Dia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya,” ujar David Cram Helwich, spesialis debat di University of Minnesota.


Kecemasan Clinton

Di tengah persiapan menghadapi debat perdana calon presiden Amerika Serikat, kandidat dari Partai Demokrat Hillary Clinton mencemaskan standar ganda perlakuan terhadap dirinya dalam debat.

“Adalah tidak adil meminta Hillary Clinton bermain polisi lalu lintas dengan Trump, memastikan kebohongannya dikoreksi dan juga menyampaikan visi yang akan dilakukannya bagi rakyat Amerika,” ujar manajer kampanye Clinton, Robbie Mook, kepada televisi ABC.

Tim kampanye Clinton khawatir moderator Lester Holt dari NBC akan mengajukan soal-soal mudah ke arah Trump, tapi sebaliknya menekan Clinton dengan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih menantang.
“Yang kami minta ialah jika Donald Trump berbohong, kebohongan itu ditunjukkan,” ujar Mook. “Kami khawatir Trump akan terus berbohong,”
Perilaku Trump juga akan menjadi tantangan sendiri dalam menilai hasil debat dan memberikan tekanan terhadap Holt.

Taktik pascadebat pun akan membantu menentukan debat pertama dari tiga debat menjelang pemilihan presiden bakal memengaruhi hasil pemilihan.

Sebagai contoh, Ronald Reagan tampil sangat baik ketika berdebat dengan Jimmy Carter dan meyakinkan pemilih dia bisa menjadi presiden.

Hal serupa ditunjukkan George W Bush pada 2000 kala melawan Al Gore, kandidat Demokrat yang jauh lebih berpengalaman dalam politik. Situasi Trump saat ini memiliki kemiripan dengan pendahulunya tersebut. (AFP/AP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya