Rusia Dinilai Bertindak Barbar

Indah Hoesin
27/9/2016 00:45
Rusia Dinilai Bertindak Barbar
(AFP / THAER MOHAMMED)

AMERIKA Serikat (AS) menuduh Rusia melakukan tindakan barbar atas serangan membabi buta di wilayah Aleppo, Suriah.

Sebelumnya, pesawat-pesawat perang Suriah dan Rusia menggempur kota tersebut yang termasuk salah satu serangan terbesar dalam lima tahun konflik bersenjata di Suriah.

"Apa yang didukung dan dilakukan Rusia tidak untuk menghentikan terorisme. Itu merupakan kebiadaban," ujar Duta Besar (Dubes) AS untuk Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Samantha Power.

Sebelumnya pada Kamis (22/9) lalu, militer Suriah meluncurkan operasi serangan dengan bom besar jenis 'buster bunker'.

Tembakan persenjataan canggih juga diarahkan ke permukiman yang dikuasai kelompok pemberontak di wilayah Aleppo.

Serangan pasukan rezim Bashar al-Assad yang didukung jet tempur Rusia tersebut telah menewaskan 124 orang.

Sebagian besar korban merupakan penduduk sipil.

Di sisi lain, Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat untuk meminta Rusia mengendalikan sekutunya, Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan menghentikan serangan udara intensif.

Rusia dan Suriah pun telah berulang kali dituduh telah melakukan kejahatan perang.

"Sangat sulit untuk mencegah Rusia bekerja sama dengan rezim Suriah melakukan kejahatan perang," ujar Dubes Inggris untuk PBB Matthew Rycroft. Ia menambahkan, persenjataan dengan teknologi tinggi dari Rusia telah membuat neraka baru dalam konflik Suriah.

Kejahatan perang

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, telah memperingatkan penggunaan senjata canggih terhadap penduduk sipil bisa disebut sebagai kejahatan perang.

Dubes Prancis untuk PBB, Francois Delattre, mengatakan kekejaman tersebut harus segera dihentikan.

Ban meminta kepada negara-negara adidaya untuk bekerja keras mengakhiri mimpi buruk di Suriah yang telah menewaskan lebih dari 300 ribu orang dan membuat jutaan orang mengungsi.

Inggris, Prancis, dan AS telah mendesak digelarnya pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas gencatan senjata Suriah yang terhenti di tengah jalan.

Beberapa hari sebelumnya, wakil negara anggota Dewan Keamanan telah bertemu secara intensif.

Sebagai bentuk protes terhadap serangan di Aleppo, Dubes AS, Prancis, dan Inggris untuk PBB melakukan walk out dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB saat Dubes Suriah untuk PBB menyampaikan sambutannya.

Di lain pihak, Dubes Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, mengakui lonjakan kekerasan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Dengan kondisi tersebut, hampir tidak mungkin untuk membawa perdamaian di Suriah saat ini.

Churkin kembali menuduh kegagalan diplomasi disebabkan AS.

Pasalnya, 'Negeri Paman Sam' ini tidak bisa membedakan kelompok bersenjata oposisi moderat termasuk dengan kelompok bersenjata yang berafiliansi dengan jaringan Al-Qaeda, Nusra Front, dan mematuhi gencatan senjata.

"Perjanjian gencatan senjata AS-Rusia yang akan memetakan jalan menuju pembicaraan damai telah runtuh oleh sabotase oposisi moderat," tegas Churkin.

Akan tetapi, Churkin mengatakan bahwa menghidupkan kembali gencatan senjata masih menjadi tujuan yang dikejar Moskow jika hal tersebut dinilai bagian dari upaya bersama semua pihak.

Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengakui peluang gencatan senjata dan perdamaian di Suriah sangat kecil. Namun, Rusia dan AS masih memiliki peluang untuk membantu perdamaian Suriah.

Sementara itu, sejumlah warga melaporkan serangan bom kluster menghujani wilayah timur Aleppo pada Sabtu (24/9) malam waktu setempat.

Observatorium Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan serangan itu telah menewaskan sedikitnya 19 anak. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya