Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
NOVEMBER 2015 menjadi bulan penting bagi karier Hossam Bahgat, kontributor sebuah situs berita independen Mada Masr dan juga pendiri kelompok hak asasi manusia (HAM) Prakarsa untuk Hak Pribadi Mesir (EIPR).
Pada bulan tersebut Bahgat ditahan militer Mesir karena dituduh melakukan penerbitan berita palsu yang merugikan kepentingan nasional dan menyebarkan informasi yang mengganggu ketenteraman umum.
Jurnalis berusia 37 tahun tersebut ditahan untuk penyelidikan selama empat hari.
Penangkapan Bahgat mendapat kecaman dari dunia internasional yang mengutuk penahanan tersebut sebagai serangan serius terhadap kebebasan pers di Mesir.
Berita penangkapan itu juga terjadi beberapa hari setelah warga London, Inggris, memprotes kunjungan Presiden Mesir Abdel Fatah al-Sisi ke negeri tersebut.
Al-Sisi diduga telah menelikung media Mesir sejak berhasil menggulingkan mantan Presiden Muhammad Mursi pada 2013.
Presiden Mesir dari kalangan militer tersebut juga ditolak warga London atas sejumlah isu pembunuhan massal, pemenjaraan pendukung Ikhwanul Muslimin, dan sejumlah kasus pelanggaran HAM.
"Ini momen untuk maju bagi Mesir. Tetap menahan Bahgat atau menempatkannya di pengadilan akan menjadi tanda definitif bahwa Al-Sisi dan pemerintahannya tidak berniat mengendurkan serangan represif selama dua tahun terakhir," ujar Sarah Leah Whitson, Direktur Pengawas HAM Timur Tengah.
Negad al-Borai, pengacara Bahgat, mengatakan penangkapan tersebut terkait dengan sebuah artikel yang ditulisnya pada Oktober 2015 tentang persidangan perwira militer yang dituduh terlibat upaya kudeta.
Borai menyebut penahanan Bahgat dapat diperpanjang tanpa batas waktu dan dapat dijatuhi lebih banyak tuduhan lagi.
"Tidak diketahui di mana Bahgat saat ini sedang ditahan atau di mana Bahgat akan ditahan selama empat hari dan ... keluarganya tengah mencoba untuk mencari tahu keberadaannya untuk memberikan obat," ujar pengacara Hassan El-Azhary.
Bahgat diketahui menerima surat panggilan di rumahnya di Alexandria dan beberapa hari kemudian jurnalis tersebut memenuhi panggilan ke markas intelijen militer tanpa disertai pengacara dan alat komunikasi apa pun, sesuai dengan prosedur standar di Mesir.
Pengusaha ditangkap
Seiring dengan pemberitaan penangkapan Bahgat, media Mesir juga melaporkan penangkapan seorang pengusaha bernama Salah Diab dan anak laki-lakinya.
Diab pendiri surat kabar Al Masry Al Youm dan sebelum penangkapan jaksa telah membekukan aset mereka bersama dengan pendiri lainnya atas tuduhan korupsi.
Sementara itu, seorang jurnalis lainnya, Mahmoud Abou Zeid, telah ditahan selama lebih dari dua tahun dalam sidang praperadilan.
Sebelum penahanan Bahgat, tiga jurnalis Al Jazeera juga ditahan atas tuduhan membantu organisasi teroris.
Meskipun ketiganya akhirnya dibebaskan dan mendapat pengampunan dari Presiden, kasus itu sempat menjadi fokus internasional atas tindakan keras Al-Sisi di Mesir.
Amnesty International menggambarkan penangkapan Bahgat sebagai bagian dari 'serangan ganas terhadap jurnalisme independen dan masyarakat sipil' di Mesir.
Penangkapan tersebut juga dikutuk Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) dan menyerukan kebebasan untuk Bahgat.
Bahgat ialah jurnalis yang juga menyelidiki banyak kasus pengadilan terkait dengan korupsi keluarga mantan Presiden Hosni Mubarak, pelepasan para jihadis oleh militer Mesir setelah penggulingan Mubarak, dan kasus pengadilan sel-sel militan.
Bahgat mendirikan EIPR pada 2002 dan menjadi direktur eksekutif sampai 2013.
Pada Agustus 2011, Human Rights Watch (HRW) memberikan penghargaan HRW Alison des Forges atas jasanya menegakkan kebebasan pribadi dari semua warga Mesir.
Saat ini Bahgat telah dibebaskan, tetapi masih banyak jurnalis yang ditahan pemerintah Mesir.
Jumlah kasusnya terus bertambah setelah pemerintahan Al-Sisi berkuasa.
Bahkan pada Desember 2015, CJP menyebut Mesir ialah negara penjara bagi jurnalis kedua di seluruh dunia setelah Tiongkok.
Sebuah organisasi nonpemerintah Jurnalis tanpa Batas (RSF) juga mengatakan Mesir ialah penjara terbesar bagi jurnalis.
"Bekerja sebagai jurnalis di Mesir telah sama berbahayanya dengan melakukan demonstrasi terbuka melawan rezim yang berkuasa," ujar sebuah pernyataan dari RSF. (Theguardian/Ihs/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved