Membungkam Media yang tidak Sejalan dengan Pemerintah

27/9/2016 00:00
Membungkam Media yang tidak Sejalan dengan Pemerintah
(AFP/KHALED DESOUKI)

KEPALA bagian pemberitaan televisi milik pemerintah Mesir, Mostafa Shehata, dipecat setelah jaringan yang dipimpinnya keliru menayangkan sebuah wawancara lawas dengan Presiden Abdel Fattah el-Sisi.

Shehata, seperti dilaporkan Telegraph, mengakui telah dipecat setelah kantor berita yang dikelola pemerintah yang menjadi tempatnya bekerja, Channel 1, Selasa (20/9), menayangkan wawancara tahun lalu, yaitu antara PBS dan El-Sisi.

Seharusnya ia menayangkan wawancara terbaru.

Pekan lalu, El-Sisi, yang tengah berada di New York, Amerika Serikat (AS), untuk Sidang Umum PBB, diwawancarai jaringan AS, PBS, seperti yang dilakukan pada tahun lalu.

Wawancara tahun lalu dilakukan Charlie Rose, sedangkan yang terbaru dipandu Kepala Koresponden Luar Negeri PBS, Margaret Warner.

Transmisi yang disiarkan terhubung dengan sidang PBB sehingga langsung dihentikan ketika seorang staf Shehata menyadari telah terjadi kesalahan.

Blunder itu mengundang kecaman dari saluran-saluran swasta pro-El-Sisi, yang telah melakukan peliputan ekstensif selama kunjungan sang Presiden 'Negeri Piramida' ke New York, AS.

Shehata menegaskan kepada AFP tindakan pemecatan itu tidak logis karena sejumlah orang juga terlibat dalam penayangan itu.

Ia berpikir seharusnya yang dipecat bukan seorang diri.

Safaa Hegazy, Kepala Egyptian Radio dan Television Union yang mengelola televisi negara, kemudian meminta maaf atas 'kesalahan besar' itu.

Ia mengatakan penyelidikan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab.

Dideportasi dari Kairo

Wartawan terkemuka Inggris berdarah Libanon, Liliane Daoud, yang menjadi pemandu gelar wicara yang kritis terhadap pemerintahan Presiden El-Sisi telah tiba di Beirut setelah dideportasi dari Kairo, Mesir.

Daoud, mantan reporter BBC, masih belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Namun, pengacaranya, Zyad el-Elaimy, mengatakan di akun Twitter bahwa kliennya sedang menyusun rencana untuk melawan deportasi itu.

Tidak ada penjelasan resmi mengenai penahanan singkat Daoud dan pendeportasiannya dari Mesir.

Namun, seorang pejabat keamanan Mesir, yang berbicara dengan syarat anonim karena ia tidak berwenang untuk berbicara kepada wartawan, mengatakan izin tinggal Daoud berakhir setelah kontraknya dengan stasiun swasta ONTV di Mesir dihentikan.

"Ini pertama kalinya seseorang dideportasi dalam model seperti ini di Mesir," kata Elaimy, yang berbicara melalui telepon dari Kairo.

Bahkan, para penjahat, kata dia, diminta pergi, bukan dibawa dari rumah mereka.

Menjelang tengah malam pada Senin 27 Juni lalu, delapan orang berpakaian biasa mengawal Daoud dari rumahnya di pinggiran Kota Kairo yang telah ditinggalinya selama lima tahun.

Itu terjadi setelah ia mengumumkan di media sosial bahwa perusahaan media tempat ia membangun karier telah menghentikan kontraknya.

Putrinya, 10, warga negara Mesir, ada di lokasi ketika sejumlah orang membawa Daoud pergi.

Orang-orang yang diduga aparat keamanan Mesir itu tidak memberinya waktu untuk mengemas barang-barang.

"Dia hanya bisa menelepon keluarganya dari pesawat sebelum lepas landas menuju Beirut," kata pengacara Daoud.

Elaimy mengatakan deportasi Daoud mewakili aksi baru dalam tindakan keras pemerintah terhadap kalangan yang tak segaris dengan rezim.

Dia menyebut pihak berwenang tidak siap mendengar setiap pendapat berbeda atau beragam termasuk siapa saja yang mendukung gerakan perlawanan yang menumbangkan Hosni Mubarak.

Sejak kudeta militer yang dipimpin El-Sisi menumbangkan mantan Presiden Mohamed Morsi pada 2013, rezim El-Sisi telah menunjukkan sedikit toleransi terhadap kritik, melarang protes, dan tidak memberikan program-program mengudara.

Deportasi Daoud yang mendadak telah mengejutkan rekan-rekannya dan tokoh masyarakat lain.

Mohamed El Baradei, peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan salah satu bapak spiritual gerakan perlawanan Mesir yang kini tinggal di pengasingan, mengapresiasi Daoud untuk pelaporan-laporan profesionalnya.

"Suatu hari kita mungkin memiliki cukup kepercayaan diri untuk memahami nilai memiliki pendapat yang berbeda," kata El Baredei dalam sebuah komentar halus, tapi menusuk, tentang pihak berwenang yang bersikap opresif.

Daoud sebelumnya bekerja untuk BBC dan tinggal di London, Inggris, sebelum pindah ke Mesir dengan putrinya setelah gelombang protes 2011 yang dikenal sebagai Arab Spring pecah.

Acara gelar wicara yang ia bawahkan di ONTV, The Full Picture, menayangkan pandangan kritis terhadap pemerintah El-Sisi dan menghadirkan tamu dari kalangan demonstran dan tokoh pemuda serta pejabat pemerintah.

Selama pemerintahan singkat Mursi yang didukung kelompok Ikhwanul Muslimin, dia juga menengahkan pandangan kritis terhadap kelompok itu.

Elaimy mengatakan Daoud telah mengajukan pembaharuan izin tinggalnya hampir setahun yang lalu, tapi pemerintah tidak menanggapi dan membuatnya menjadi terkatung-katung.

Dia menyatakan Daoud memiliki hak untuk kembali ke Kairo karena dia memiliki hak asuh putrinya.

Pembawa acara televisi satir, Bassem Youssef, yang programnya telah dicekal untuk mengudara akibat mengkritik pemerintah, memandang penangkapan Daoud 'hanyalah sebuah permulaan alias akan ada 'korban' berikutnya.

"Mesir tidak bisa menoleransi seluruh dunia," kata Youssef, yang juga telah meninggalkan Mesir di akun media sosial Facebook-nya. (The Guardian/Telegraph/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya