Menu Makan Siang Terakhir di Kapal Titanic

AP/Andhika Prasetyo/I-1
01/9/2015 00:00
Menu Makan Siang Terakhir di Kapal Titanic
()
ABRAHAM Lincoln Salomon ialah seorang penumpang kelas satu yang selamat dengan menaiki sekoci Lifeboat 1 ketika Kapal Titanic menabrak es dan tenggelam di sebelah utara Samudra Atlantik pada 1912. Dia bersama sekelompok penumpang kelas satu, diduga menyuap awak sekoci untuk segera pergi dari lokasi tenggelamnya kapal dengan hanya berisi sedikit penumpang. Padahal, sekoci tersebut mampu menampung hingga 40 orang.

Salomon memang selamat dari tragedi tenggelamnya Titanic. Dari dialah selembar menu makan siang dari kapal megah pada zamannya itu masih tertinggal hingga sekarang. Menu makan siang terakhir di Titanic itu, tertanggal 14 April 1912, akan dilelang di Balai Lelang Lion Heart Autographs, New York, Amerika Serikat (AS), pada 30 September mendatang. Hari itu bersamaan dengan peringatan 30 tahun ditemukannya Titanic di dasar Samudra Atlantik. Harga selembar menu itu diperkirakan berkisar US$50 ribu hingga US$70 ribu, atau Rp700 juta-Rp980 juta.

Di balik kertas menu tersebut terdapat tanda tangan atas nama Isaac Gerald Frauenthal, penumpang kelas satu lainnya yang juga selamat dengan menggunakan sekoci yang berbeda dari Salomon. Pada hari nahas itu, Salomon dan Frauenthal mungkin baru saja makan siang bersama-sama. Menu makan siang itu bukan satu-satunya peninggalan Titanic yang bakal dilelang. Salomon pun menyimpan tiket permandian mewah bergaya Turki yang juga tersedia di Titanic. Di situ tertera nama Salomon beserta dua penumpang kelas satu lain yang mungkin sempat menikmati fasilitas permandian tersebut. Balai lelang Lion Heart Autographs memprediksi nilai tiket permandian itu seharga US$7.500 hingga US$10 ribu.

Satu peninggalan lainnya yang diperkirakan bernilai US$4 ribu hingga US$6 ribu ialah sehelai surat yang ditulis Mabel Francatelli, yang juga merupakan penumpang kelas satu Titanic, kepada Salomon, enam bulan setelah peristiwa tenggelamnya kapal. Dari surat itu tersingkap pula bahwa Francatelli mengisahkan dirinya pun selamat dari tragedi Titanic karena naik sekoci bersama dengan perancang busana Lucy Duff-Gordon dan suaminya, Lord Cosmo Duff-Gordon. Sebagaimana kelompok penumpang kelas satu lain, mereka pun diduga menyuap awak sekoci untuk pergi dari lokasi tenggelamnya kapal dengan hanya berisi sedikit penumpang.

Pasangan suami istri Duff-Gordon itu juga merupakan penumpang yang bersaksi mengenai tragedi Titanic. Komisi Penyelidikan Kecelakaan Inggris sempat memeriksa mereka dalam penyelidikan tenggelamnya kapal, tapi menetapkan pasangan Duff-Gordon tidak bersalah dan menyatakan mereka tidak menghalangi para penumpang lain untuk naik sekoci. "Keadaan kami berdua masih memburuk. Meskipun selamat, kami masih ketakutan. Pengalaman yang mengerikan ditambah penyelidikan yang sangat tidak adil ketika kami tiba di London sangat membuat kami cemas," tutup Francatelli di suratnya itu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya