Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu(AP/Burhan Ozbilici)
JET-JET tempur Turki yang bergabung dengan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara ke basis kelompok ekstremis Islamic State (IS) di wilayah Suriah.
"Pesawat tempur kami bersama dengan pesawat lainnya dari pasukan koalisi telah memulai operasi gabungan untuk melawan IS yang akhir-akhir ini mulai mengancam keamanan negara kami," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Mevlut Cavusoglu dalam pernyataannya, kemarin.
Cavusoglu mengatakan bahwa kesepakatan kerja sama antara Turki dan pasukan koalisi pimpinan AS secara resmi telah ditandatangani pada Senin (24/8) pekan lalu.
Walaupun kesepakatan telah dibuat, keterlibatan Turki dalam memerangi IS dinilai masih dalam lingkup yang terbatas dan hanya difokuskan pada serangan udara.
Sementara itu, pasukan darat militer Turki lebih memfokuskan serangan darat untuk memerangi kelompok separatis Kurdistan Workers' Party (PKK), yang selama ini menuntut memisahkan diri dari wilayah Turki.
Bergabungnya Turki dalam koalisi tidak terlepas dari insiden serangan bom bunuh diri di sebuah kota di Turki yang berbatasan langsung dengan wilayah Suriah pada 20 Juli silam.
Insiden yang diklaim dilakukan anggota IS tersebut menewaskan 33 warga Turki dan satu pelaku bom bunuh diri. Sejak saat itu, AS pun terus mendesak agar negara yang terletak di dua benua tersebut untuk memberi peran nyata dalam melawan aksi ekstremisme.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat Ashton Carter menyerukan agar Turki memberikan komitmennya secara penuh dalam memerangi kelompok IS. Selain sebagai upaya menghentikan aksi kekerasan di Timur Tengah, serangan itu ditujukan untuk mencegah masuknya kelompok tersebut dari wilayah Suriah.
"Dalam keadaan seperti ini, mereka perlu bergabung dengan satuan tugas udara (ATO). Mereka perlu bekerja lebih keras untuk mengamankan daerah perbatasannya. Saat ini, kesepakatan telah dibuat," ujar Carter.
Walaupun langkah yang dibuat Turki untuk bergabung dengan koalisi dinilai sangat terlambat, Carter menilai sekarang Turki telah melakukan sesuatu yang benar.
Di sisi lain, pemerintah AS menyatakan bahwa Junaid Hussein, anggota IS yang ahli dalam peretasan, tewas pada serangan koalisi di Suriah. Selama ini, Hussein dikenal sebagai 'khalifah siber '. (AFP/Pra/I-3)