Jamuan Makan Malam dan Kemiskinan

Indah Hoesin
20/9/2016 10:05
Jamuan Makan Malam dan Kemiskinan
(AP/SHIZUO KAMBAYASHI)

TAWA dan celoteh memenuhi ruangan sebuah apartemen sederhana di Tokyo, kemarin (Senin, 19/9). Di tempat itu puluhan anak dan relawan berkumpul untuk makan malam. Di situ ada sebuah meja yang di atasnya terhidang berbagai menu, seperti kari, nasi, salad, dan buah-buahan.

Kegiatan itu ialah salah satu acara makan malam bersama ala Misako Omura atau yang juga dikenal dengan kodomo shokudo atau kafetaria anak-anak yang tengah marak bermunculan di Jepang.

Kegiatan ini merupakan upaya dari sebagian besar warga untuk mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan anak-anak di Jepang, mulai masalah kemiskinan hingga menjamin anak-anak dengan orangtua yang bekerja hingga larut malam. Tujuannya agar mereka mendapatkan makan malam yang layak.

Menurut perkiraan surat kabar nasional Asahi, sampai Mei lalu ada sekitar 319 tempat semacam itu yang menyajikan makanan murah bahkan gratis di seluruh Jepang. Jumlah itu meningkat pesat dari hanya 21 tempat pada 2013.

Selama 70 tahun terakhir, kemakmuran Jepang yang meningkat telah dinodai sebagian besar kemelaratan selama dan setelah Perang Dunia II, dengan banyak anak yang kelaparan dan banyak keluarga yang tidak memiliki makanan.

Bahkan, menurut laporan Unicef pada 2013, Jepang berada di peringkat 10 besar kemiskinan anak tertinggi di antara 31 negara kaya lainnya.

Sebagian besar kemiskinan di Jepang memang tidak terlihat secara kasatmata. Hal itu karena banyak yang malu dan khawatir keluarga mereka diperlakukan secara diskriminatif.

Beberapa keluarga di negara ini kerap kali harus berhemat untuk makanan dan kebutuhan lain asalkan anak-anak mereka bisa berpakaian layak dan baik. Ini semata-mata untuk menghindari pandangan publik sebagai anak yang kurang beruntung.

"Seperti beberapa anak yang mungkin memiliki smartphone, tapi tidak memiliki uang untuk membeli sekotak jus bernilai 100 yen atau untuk berpartisipasi dalam acara piknik sekolah," ujar Setsuko Ito, kepala divisi pendukung anak di Distrik Arakawa, Tokyo, kemarin.

Omura sendiri mulai mengadakan makan malam Minggu bersama di Arakawa pada 2014 untuk menciptakan ruang bagi anak-anak yang mungkin tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari keluarga mereka, sekolah, dan juga masyarakat.

Inisiatifnya tersebut kemudian didukung sumbangan dan hibah dari kantor distrik setempat. Anak-anak dan relawan membayar 300 yen untuk setiap makan malam.

"Saya berharap semua orang bisa mengembangkan rasa bahwa setiap anak adalah anak kita bersama dan memahami bahwa kita membesarkan anak-anak yang akan mendukung kita sebagai generasi penerus," ujar Omura.(AP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya