Mereka yang Menanti Bantuan

20/9/2016 06:41
Mereka yang Menanti Bantuan
(AFP/IHLAS NEWS AGENCY)

SEHARI setelah serangan udara koalisi militer pimpinan Amerika Serikat (AS) mengebom pasukan pemerintah Suriah, pesawat-pesawat tempur melancarkan serangan terhadap kubu pemberontak di timur Aleppo, Minggu (18/9).

Serangan itu membuat komitmen sejumlah pihak terhadap kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS dan Rusia terancam.

Padahal, di awal pemberlakuan kesepakatan itu sempat 'dipuji' karena berhasil menyetop baku tembak antara para pihak yang berperang di Suriah.

Tidak diketahui siapa yang melakukan serangan pada Minggu.

Yang jelas upaya penyaluran bantuan kemanusiaan untuk orang-orang yang terdampak perang tak mengalami kemajuan yang berarti.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mendesak Rusia dan AS, Rabu (15/9), untuk menekan semua pihak agar menjamin keamanan konvoi bantuan PBB.

"Sangat penting bahwa pengaturan keamanan yang diperlukan harus diberikan agar mereka dapat diizinkan untuk menyeberangi garis," katanya.

"Saya telah mendesak pemerintah Rusia untuk memastikan bahwa mereka mempunyai pengaruh pada pemerintah Suriah, dan di sisi Amerika untuk memastikan kelompok-kelompok bersenjata Suriah, mereka juga bekerja sama penuh," tegas Ban.

Penduduk di daerah timur Aleppo yang dikuasai pemberontak sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan setelah pertempuran sengit selama beberapa pekan.

Sementara itu, pasukan pemerintah telah melakukan pengepungan di sana hampir dua bulan terakhir.

Praktis tidak ada bantuan yang masuk sejak awal Juli.

Sebuah konvoi 20 truk penuh bantuan senilai satu bulan pasokan makanan untuk 40 ribu orang masih menunggu aba-aba di perbatasan Turki.

Ban mengatakan jaminan keamanan yang diperlukan tidak diberikan.

"Mereka (truk bantuan) berada di perbatasan dengan Suriah. Masih di sana."

Bahkan, kata PBB, konvoi bantuan yang telah berhasil masuk ke Suriah dalam beberapa bulan terakhir ditolak atau disingkirkan pasukan pemerintah Suriah.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan 49,5 ton pasokan medis telah ditolak semuanya oleh pemerintah Suriah dan jenis bantuan yang dihapus mencakup peralatan penanganan trauma dan bedah.

Sementara itu, ribuan warga di jantung konflik atau masyarakat yang terkepung peperangan frustrasi akibat keterlambatan bantuan yang dijanjikan.

"Saya tidak hanya ingin perpanjangan masa gencatan untuk menghentikan pengeboman. Saya ingin mereka memungkinkan masuk sayuran dan bahan bakar," kata Mustafa Morjan, warga berusia 30 tahun, di wilayah Al-Zabdiya.

Penyandang cacat

Para korban yang berhasil melarikan dari peperangan di Suriah dan kekerasan di sejumlah negara lain menginginkan agar diberikan akses untuk berkarya di berbagai bidang.

Mereka orang-orang yang kehilangan anggota tubuh atau cacat.

Salah satunya ialah Ibrahim Al-Hussein, 27, yang kehilangan kaki akibat ledakan bom.

Perenang Suriah itu berhasil mewujudkan impiannya dengan mengikuti ajang Paralimpiade di Rio, Brasil, sebagai pengungsi.

Namun, di kegembiraan itu, Al-Hussein mengatakan mimpi sebenarnya yang ia pendam ialah suatu hari nanti bisa kembali ke Suriah yang damai.

Ia mengatakan banyak atlet Suriah telah melarikan diri.

Karena itu, ia meminta Uni Eropa untuk mempermudah prosedur bagi para atlet untuk bergabung ke klub-klub sehingga bisa terus berlatih.

"Ada banyak korban luka perang, orang-orang yang telah diamputasi, seperti saya. Untuk warga Palestina, Irak, dan Suriah, Paralimpiade ialah sebuah tujuan nyata," kata dia. (AFP/The Guardian/Hym/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya