Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENANDATANGANAN kesepakatan damai di Suriah pada Senin (12/9) lalu menjadi secercah harapan untuk mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung hampir lima tahun di negeri itu.
Sejak kesepakatan itu diteken rezim pemerintah dan perwakilan pemberontak serta pihak Amerika Serikat dan Rusia yang terlibat konflik, tak ada lagi bau asap mesiu di Aleppo, kota kedua terbesar di negara itu yang kerap jadi palagan sengit.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa 24 jam kesepakatan gencatan senjata yang diperpanjang menjadi 48 jam sangat signifikan menurunkan angka pertempuran.
Meski di beberapa tempat masih ada riak-riak kecil, itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura pun optimistis bahwa gencatan senjata kali ini secara garis besar berhasil.
Secara ideal, kesepakatan gencatan senjata kali ini memang hanya melibatkan pasukan Presiden Bashar al-Assad dengan kelompok oposisi, tetapi tidak melibatkan kelompok militan jihad seperti kelompok IS.
Laporan dari Aleppo yang menjadi kota terbesar kedua di Suriah, sekaligus menjadi pusat pertempuran selama beberapa pekan terakhir, memperlihatkan bahwa baik di Aleppo timur yang dikuasai pemberontak maupun bagian Barat yang dikuasai pasukan pemerintah tidak tampak lalu lintas roket serangan udara atau tembakan.
Dari pagi sampai malam masyarakat tidak lagi ditakutkan bunyi mortir.
Kondisi serupa juga terjadi di Damaskus. Bahkan warga di sana memanfaatkan situasi itu sebagai momentum liburan Idul Adha.
Kelompok Pemantau Hak Asasi Manusia di Suriah mengatakan situasi 'benar-benar tenang'.
Media pemerintah Suriah memang melaporkan telah beberapa pelanggaran yang diduga dilakukan pasukan oposisi seperti terjadi di Provinsi Homs.
Namun, tidak ada laporan kekerasan yang signifikan atau memakan korban jiwa.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry kepada wartawan di Washington mengatakan terlalu dini untuk menarik kesimpulan tentang keberhasilan gencatan senjata.
Namun, ia mendesak semua pihak untuk memanfaatkan kesempatan tersebut untuk hal yang lebih baik ke depannya.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, "Saya mendesak semua pihak untuk mendukung kesepakatan gencatan senjata ini karena mungkin kesempatan terakhir yang kita harus ambil untuk menyimpan harapan agar Suriah bisa bersatu kembali," tambahnya.
Yang pasti kondisi gencatan senjata kali ini disambut positif banyak pihak.
Masyarakat mengaku bisa menikmati situasi hidup yang tenang setelah selalu dihantui peperangan dan pemberontakan yang sewaktu-waktu bahkan dapat mengancam nyawa mereka.
"Pada malam hari biasanya kami tidur ditemani raungan bunyi pesawat terbang, tapi alhamdulillah, tadi malam kami semua bisa tidur dengan tenang," kata seorang aktivis kelompok oposisi Hassaan Abu Nuh di Talbisseh, Suriah Tengah, Jumat (16/9).
Langgar kesepakatan
Namun, sayangnya, kondisi itu hanya berlangsung sekejap.
Keesokan harinya, sejumlah jet AS menewaskan lebih dari 60 tentara Suriah dalam empat kali serangan udara yang dilakukan dua pesawat tempur jenis F-16 dan dua A-10 yang terbang langsung dari Irak.
Pengawas Hak Asasi Manusia Suriah, tim pengawas yang berpusat di Inggris dan bekerja di seluruh pelosok Suriah, mengutip narasumber dari militer di Bandar Udara Deir Al Zor bahwa sedikitnya 90 tentara Suriah tewas.
Kementerian Luar Negeri Rusia, Minggu, mengatakan serangan udara yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat terhadap pasukan Angkatan Darat Suriah menjadi ancaman terhadap gencatan senjata.
Pihaknya juga mendesak Washington menginvestigasi secara sungguh-sungguh peristiwa tersebut.
Kementerian Luar Negeri Rusia dengan nada keras menyatakan serangan tersebut ada pada batas antara kelalaian tindak kejahatan dan keuntungan langsung bagi kelompok garis keras ISIS.
Pihaknya menyatakan peristiwa itu disebabkan sikap Washington yang keras kepala menolak kerja sama dengan Moskow dalam memerangi ISIS, Nusra Front yang sekarang berganti nama menjadi Jabhat Fatah Asy-Syam, dan kelompok teroris lainnya.
Distribusi bantuan
Selain serangan itu yang menodai gencatan senjata, hingga Selasa (13/9) lalu belum ada tanda-tanda bahwa bantuan sudah mulai didistribusikan, termasuk ke wilayah Aleppo timur yang dikelilingi pasukan pemerintah.
Rusia mengatakan pasukan mereka telah dikerahkan di tombol Castello yang menjadi perbatasan Turki ke Aleppo dan menjadi zona demiliterisasi.
Namun, betapa pun kesepakatan gencatan senjata itu bisa menurunkan angka kekerasan, kelompok oposisi tetap pesimistis.
Apa pasal?
Bagi Moskow dan Washington, apabila kesepakatan itu bisa berlangsung lama setidaknya selama satu pekan, mereka akan memulai kampanye bersama yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menargetkan penumpasan pasukan jihad, termasuk IS dan mantan afiliasi Al-Qaeda Jabhat Fatah Asy-Syam.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov mengatakan utusan khusus PBB Staffan de Mistura bisa mengundang perwakilan pemerintah dan oposisi untuk pembicaraan damai baru 'pada awal Oktober' mendatang.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan akan kembali ke perundingan perdamaian dan PBB ialah mediator satu-satunya yang 'realistis dan mungkin memberikan solusi'.
Namun, masih ada skeptisisme yang mendalam tentang apakah gencatan senjata akan bertahan atau malah gagal lagi dan lagi seperti sebelumnya.
Di pihak oposisi mereka belum resmi menandatangani kesepakatan tersebut dan menuntut jaminan tentang bagaimana gencatan senjata akan dipantau.
Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan kelompok oposisi mengatakan mereka tidak bisa mendukung gencatan senjata sementara penderitaan warga sipil terus terjadi.
Mereka mengatakan, "Tidak punya pilihan ... tapi bagaimanapun tetap akan melawan rezim dan sekutunya sampai peluru terakhir." (AFP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved