Kesetiaan pada Partai Republik Meluntur

20/9/2016 02:15
Kesetiaan pada Partai Republik Meluntur
(AP/WILFREDO LEE)

FRANCIS Suarez ialah sosok yang selalu mendukung Partai Republik. Ia merupakan bagian dari warisan lama sejarah komunitas keturunan Kuba yang setia pada calon presiden (capres) dari Republik di Negara Bagian Florida, Amerika
Serikat (AS).

Dua bulan jelang pelaksanaan pemilihan presiden (pilpres) AS, Suarez, 38, yang menjabat Komisaris Kota Miami mengaku belum menentukan pilihannya. Jika menilik ikatan sejarahnya, jelas dia akan memilih capres dari Republik, Donald
Trump.

Namun, hingga kini, Suarez mengaku belum tentu menyalurkan suaranya bagi bos realestat asal New York tersebut agar melangkah ke Gedung Putih. Sikap dan pendirian Suarez tersebut tak sendirian.

Banyak warga Amerika yang berdarah Kuba memiliki pandangan yang sama. Banyak warga yang berasal dari Kuba tidak suka dengan Trump. Apalagi capres dari Partai Republik tersebut dikenal sangat anti-Hispanik. Pernyataan Trump yang pedas dan tak bersahabat telah membuat orang-orang dari Amerika Latin mulai menjauhi capres Republik.

Gaya dan sikap Trump sebenarnya disukai orangorang berdarah Kuba. “Ada aspek Trump yang menarik bagi bagian dari budaya Kuba-Amerika. Kepemimpinan yang kuat, kemampuan, dan kemauan untuk mengatakan hal-hal yang berani,” kata Suarez, yang ayahnya pernah menjabat Wali Kota Miami.

Namun, Suarez mengaku tidak suka dengan gaya bicara Trump yang dinilai kasar dan mengintimidasi. Tak hanya itu, Trump juga dinilai melontarkan kebijakan tergesagesa yang melampaui batas dan cenderung tak di duga. Dia meyakini kondisi-kondisi tersebut bisa sangat memengaruhi penilaian dari ratusan ribu warga Kuba-Amerika dalam pilpres mendatang.

Padahal sebelumnya, Negara Bagian Florida yang berpopulasi besar dikenal sebagai basis pendukung dari Partai Republik. Namun, Roberto Rodriguez Tejera, penyiar radio berbahasa Spanyol di Miami, secara tegas mengatakan tidak akan mendukung Trump atau Clinton. Tejera beralasan kedua capres tersebut tidak secara personal menjangkau pemilih kalangan Hispanik.

Tejera juga meminta para pemilih untuk membandingkan pernyataan Trump. Capres Republik yang berusia 70 tahun tersebut pernah mengatakan, “Saya adalah suaramu.” “Saya sendiri yang dapat memberikan solusi,” ucap Trump pada
kesempatan yang lain.

Tejera mengatakan apa yang diungkapkan Trump tidak berbeda dengan tokoh-tokoh otoriter di negara-negara Amerika Latin seperti Presiden Fidel Castro dari Kuba dan Hugo Chavez dari Venezuela.

Alasan tersebut pada akhirnya mengurungkan niat Tejera untuk memilih Trump dalam pemilu presiden AS. (AFP/Ths/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya