Patroli Perbatasan Diperketat

(AFP/Aya/I-1)
27/8/2015 00:00
Patroli Perbatasan Diperketat
()
POLISI menembakkan gas air mata ke arah pusat pendataan migran di Roszke, Hongaria Utara, kemarin, guna membubarkan sekitar 200 migran yang menolak diambil sidik jari mereka, juga mencoba kabur dari pusat pendataan. "Polisi mencoba menenangkan situasi, tapi para migran terus-menerus berteriak," ujar juru bicara Kepolisian Hongaria, Szabolcs Szenti. Hongaria lantas mengumumkan pengerahan satuan tambahan 2.106 polisi ke wilayah perbatasan Hongaria-Serbia itu. Satuan polisi itu bertugas melakukan patroli di sepanjang perbatasan Hongaria-Serbia dengan dibantu lebih dari 1.000 polisi reguler yang sebelumnya sudah bertugas di sana.

"Perlindungan perbatasan dengan 2.106 polisi tambahan di-kerahkan mulai 5 September," kata Kepala Kepolisian Karoly Papp.
Jumlah migran yang masuk Hongaria bertambah terus. Pada Senin (24/8), 2.000 migran melintasi perbatasan, sedangkan pada Selasa (25/8), jumlah bertambah menjadi 2.500, yang merupakan jumlah tertinggi migran yang masuk Hongaria dalam sehari. Padahal pada enam bulan pertama 2015, jumlah migran hanya 150 orang.

Jumlah 2.500 pun hanya sebagian dari gelombang 7.000 pengungsi yang sedang dalam perjalanan menuju negara-negara anggota Uni Eropa dan dihentikan pekan lalu. Mayoritas pengungsi, termasuk 555 anak, berasal dari Suriah, Afghanistan, dan Pakistan. Jumlah itu kian bertambah setelah Masedonia menyatakan status darurat dan menutup perbatasannya dengan Serbia selama tiga hari. Guna mencegah masuknya gelombang migran, Hongaria juga membangun pagar kawat berduri di sepanjang perbatasan.

Arus pengungsi yang berasal dari Timur Tengah, Asia, dan Afrika, kini banyak memilih jalur Balkan Barat, termasuk Serbia dan Masedonia, sebagai jalur utama menuju negara Uni Eropa, salah satunya Hongaria. Hongaria menarik bagi para migran karena termasuk dalam zona Schengen yang bebas paspor, tidak seperti anggota Uni Eropa lain di Eropa Tenggara, semisal Kroasia, Bulgaria, dan Rumania. Karena itu, perjalanan dari Hongaria ke negara-negara Uni Eropa lain akan lebih mudah dilakukan.

Sebelumnya,dalam perbin-cangannya dengan Presiden Prancis Francois Hollande, Kanselir Jerman Angela Merkel menegur sikap Italia dan Yunani yang dianggap lambat membangun pusat pendataan migran yang baru datang. Menurut Merkel, kebanyakan migran berhasil masuk kawasan Uni Eropa karena pengamanan perbatasan Italia kurang. Dalam menanggapi teguran tersebut, Menteri Luar Negeri Italia Paolo Gentiloni membela diri dengan menyatakan pemerin-tahnya sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

"Meminta Yunani dan Italia untuk mengurus persoalan imigrasi ini seperti meminta negara yang terkena banjir untuk meningkatkan produksi payung," jelas Gentiloni. Krisis migran ini, kata dia, hanya dapat diatasi dengan pendekatan yang mencakup Eropa secara menyeluruh.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya