Serangan Kereta Terorisme Terencana

Andhika Prasetyo
27/8/2015 00:00
Serangan Kereta Terorisme Terencana
()
KEJAKSAAN Prancis, kemarin, mendakwa Ayoub El Khazzani, pria asal Maroko, dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan aksi terorisme berencana dalam serangan yang dilakukannya di sebuah kereta yang berangkat dari Brussels, Belgia, menuju Paris, Prancis, Jumat (21/8). "Ia juga didakwa dengan pelanggaran kepemilikan dan penggunaan senjata yang berkaitan dengan aksi terorisme, serta keterlibatannya dalam kelompok ekstremis dengan maksud melakukan kejahatan," ujar sumber pengadilan. Jaksa Francois Molins menguraikan beberapa bukti yang menunjukkan El Khazzani melakukan percobaan pembunuhan dalam serangannya yang merupakan bagian dari aksi terorisme berencana.

"Kami menemukan fakta bahwa El Khazzani pada Juni lalu telah kembali dari sebuah kota di selatan Turki, yang merupakan akses yang memungkinkannya masuk dan keluar Suriah," ujar Molins. Molins menambahkan pria 25 tahun itu diketahui sempat menonton video kekerasan yang mengatasnamakan salah satu kelompok radikal di ponselnya sebelum melakukan serangan. Jaksa Prancis itu juga mengungkapkan kecurigaannya tentang bagaimana El Khazzani mampu membeli sebuah tiket kereta kelas pertama seharga 149 euro, mengingat dia, menurut pengacaranya, tidak memiliki tempat tinggal ketika berada di Belgia.

Penjual tiket di stasiun mengatakan kepada para penyelidik bahwa El Khazzani membayar tiket tersebut dengan uang tunai. Ia juga menolak menaiki kereta dengan jadwal lebih awal yang lebih kosong. "Hal itu mengindikasikan serangan yang dilakukan El Khazzani telah direncanakan," lanjut Molins. Molins juga menganggap pernyataan terdakwa yang menyebut dirinya menemukan senjata-senjata dan telepon seluler di sebuah taman saat ia bermalam sangat tidak masuk akal.

Penyelidikan Belgia
Kepolisian Belgia juga menyelidiki serangan tersebut. Kepolisian setempat melakukan penyelidikan di rumah beberapa teman El Khazzani yang diyakini menjadi tempat tinggalnya dalam beberapa waktu terakhir. Kepolisian Belgia juga sempat menangkap dan meminta keterangan dari adik El Khazzani sebelum dia akhirnya dilepaskan kembali. El Khazzani telah berada dalam radar beberapa badan intelijen Eropa selama beberapa tahun terakhir.

Namun, beberapa bagian mengenai hidupnya masih belum terungkap sehingga badan intelijen tidak bisa menindak pria Maroko tersebut. El Khazzani diketahui pernah tinggal selama tujuh tahun di Spanyol sejak 2007 hingga 2014. Saat itu, ia memancing banyak perhatian karena menyebarkan pesan jihad dalam khotbahnya di sejumlah masjid di Algeciras, kota pelabuhan di selatan Spanyol. Ia juga sempat terlibat dalam aksi perdagangan narkoba ketika tinggal di 'Negeri Matador' tersebut. Kemudian, pada 2014, El Khazzani pindah ke Prancis dan bekerja untuk operator telepon seluler Lycamobile. Ia juga diyakini telah tinggal di beberapa negara Eropa lainnya. Sejak insiden yang terjadi pada Januari silam, ketika tiga orang dari kelompok ekstremis melancarkan sebuah serangan di Paris dan menewaskan 17 orang, Prancis terus melakukan pengawasan ketat terhadap segala tindakan yang diduga terkait aksi terorisme. "Kita masih menjadi target," ujar Presiden Prancis Francois Hollande, Selasa (24/8). "Serangan yang terjadi pada Jumat lalu, yang bisa saja berakhir dengan sangat mengerikan, adalah bukti bahwa kita harus terus menyiapkan diri untuk kemungkinan adanya serangan lainnya," tegas Hollande.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya