DI hari ketiga perundingan damai antara pejabat tinggi Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut), Senin (24/8), Presiden Korsel Park Geun-hye kembali menegaskan pihaknya tidak akan menghentikan siaran propaganda anti-Pyongyang di perbatasan jika Korut tidak meminta maaf.
Permintaan maaf yang dimaksud Park ialah atas tindakan Korut yang menanam ranjau darat di demilitarized zone atau zona damai yang mengakibatkan dua tentara Korsel cacat. Sejak insiden itu, Seoul menyebarkan sikap propaganda anti-Korut yang disiarkan lewat pengeras suara saban hari.
"Korea Utara harus membuat permintaan maaf yang jelas dan memastikan bahwa tidak ada provokasi lebih lanjut," tegas Park dalam komentar yang disiarkan televisi. Jika tidak, imbuhnya, "Seoul akan melanjutkan siaran propaganda perbatasan.
"Propaganda itulah yang memantik Korut menembakkan sebuah roket melintasi zona perbatasan dan menghantam Kota Yeoncheon, Korsel. Tidak lama, serangan itu dibalas Seoul dengan menembakkan puluhan misil ke wilayah Korut, Kamis (20/8).
Park telah mempertahankan gaya keras terhadap Korut sejak resmi memerintah pada 2013. Eskalasi gesekan militer dua negara diprediksi sukar diredam mengingat pembicara an yang dimulai sejak Sabtu (22/8) di Panmunjom, desa di perbatasan kedua negara, sejauh ini menemui kebuntuan.
Sejauh ini, Korut membantah terlibat dalam ledakan ranjau darat seperti yang dituduhkan Korsel. Para analis pun memandang negara yang dipimpin Kim Jong-un itu tidak akan pernah menujukkan permintaan maaf.
"Dan Presiden Park tentu sudah tahu (sikap Korut) akan seperti apa," ungkap Yang Moo- Jin, guru besar University of North Korean Studies di Seoul.
Krisis di Semenanjung Korea meningkatkan perhatian negara- negara tetangga dan luar kawasan. Tiongkok dan Jepang meminta 'dua saudara' itu menahan diri.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pun mendesak Seoul dan Pyongyang agar melipatgandakan usaha mereka untuk mencapai kompromi.
Kerahkan armada Pertemuan maraton sehari sebelumnya selama 10 jam ditutup dengan klaim Korsel yang menyebut Korut sedang berusaha untuk memengaruhi proses negosiasi dengan mengerahkan armada militer.
Kementerian Pertahanan Korsel menyebut Pyongyang telah memobilisasi 50 kapal perang dan melipatgandakan unit altileri mereka di sepanjang perbatasan.
Senin (24/8), Korsel menyebut Korut mengerahkan sekitar 20 air-cushioned landing craft, yaitu kapal bantalan udara yang digunakan sebagai pendaratan. Armada itu telah meninggalkan basis di pesisir barat laut Cholsan dan menuju ke perairan dekat Nampo, sebuah kota pelabuhan yang terletak jauh di selatan.
Sejumlah sumber mengatakan kapal Korut terlihat bergerak lebih jauh ke selatan untuk mencapai pangkalan angkatan laut Goampo, sekitar 60 kilometer di atas Northern Limit Line di Laut Kuning, perbatasan laut antar-Korea. "Sejak Korut mengumumkan keadaan semiperang, kendaraan infiltrasi mereka dan pasukan telah aktif bergerak," ucap salah satu sumber. (AFP/ Yonhap/I-2)