PRESIDEN Prancis Francois Hollande, kemarin, menganugeÂrahkan penghargaan tertinggi kepada empat orang yang menggagalkan serangan yang diduga aksi terorisme di sebuah kereta yang berangkat dari Brussels, Belgia, menuju Paris, Prancis, Jumat (21/8). Keempat orang itu terdiri atas tiga warga negara Amerika Serikat (AS) dan seorang warga negara Inggris.
“Seseorang telah memutuskan untuk melakukan sebuah kejahatan. Ia memiliki cukup senjata dan amunisi untuk melakukan pembantaian. Ia pasti melakukannya jika kalian tidak menghentikannya,†ujar Hollande saat memberikan penghargaan Legion d’Honneur kepada empat orang itu.
“Kalian telah menunjukkan kepada kami bahwa kita memiliki kekuatan untuk melawan. Kalian memberikan pesan keberanian, solidaritas, dan harapan kepada kami,†lanjut pria 61 tahun tersebut.
Tidak terlatih Para saksi mata mengatakan sang pelaku, Ayoub El Khazzani, dilengkapi dengan sebuah senapan serbu Kalashnikov, pistol otomatis Luger, amunisi, dan pisau cutter.
Pria 25 tahun itu sempat melepaskan tembakan dan melukai seorang pria sebelum dihentikan Alek Skarlatos, Spencer Stone, dan Anthony Sadler, tiga prajurit AS yang sedang berlibur, dan seorang konsultan bisnis asal Inggris Chris Norman.
Jika pelaku penyerangan tersebut tahu bagaimana menggunakan senjata yang dibawanya, ujar Skarlatos, pasti banyak yang tewas di dalam kereta tersebut.
“Dia jelas tidak memiliki pelatihan senjata api apa pun,†papar Skarlatos. “Jika dia tahu apa yang dia lakukan atau bahkan beruntung dan melakukan hal yang benar, ia akan mampu menembakkan semua peluru yang dimilikinya, dan kami pasti tidak akan berada di sini hari ini,†lanjut pria 22 tahun tersebut.
Teroris Polisi antiteror Prancis terus menginterogasi El Khazzani. Setelah mendapat informasi dari badan intelijen di Belgia, Jerman, dan Spanyol yang menandai El Khazzani sebagai salah satu anggota kelompok ekstremis, Prancis memfokuskan penyelidikan apakah yang dilakukan pria asal Maroko tersebut bermotif serangan teroris yang diorgaÂnisasi kelompok ekstremis.
El Khazzani telah tinggal di berbagai negara di Eropa selama bertahun-tahun. Ia juga pernah menghabiskan waktunya di Suriah. “Izin tinggal Spanyolnya dapat memberikan akses ke 26 negara Eropa. Dia bebas bergerak ke mana saja,†ujar sumber intelijen Spanyol.
Di Spanyol, ia diyakini menyerukan pesan-pesan jihad dalam pidato-pidato yang dilakukannya di sejumlah masjid.
Intelijen Spanyol telah menandai pria Maroko tersebut sebagai salah satu anggota kelompok ekstremis. Mereka juga telah memberi tahu intelijen Prancis pada Februari 2014 lalu. “Dia tinggal selama tujuh tahun di Spanyol sejak 2007 hingga 2014. Pertama ia tinggal di Madrid dan kemudian di Algesiras, sebelum akhirnya ia pindah ke Prancis.â€
Setelah El Khazzani pindah ke Prancis, intelijen tersebut menambahkan, ia sempat melakukan perjalanan ke Suriah sebelum akhirnya kembali lagi ke Prancis.
Di lain pihak, pengacara El Khazzani mengatakan kliennya hanya berusaha merampok penumpang dan sama sekali tidak berniat melakukan aksi terorisme.
“Dia tidak mengerti mengapa kejadian ini menjadi sebesar ini,†ungkap Sophie Duval, pengacara El Khazzani, yang tertawa ketika kliennya dikaitkan dengan aksi terorisme. (AFP/I-2)