Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
"INI bukan tempat untuk hidup. Manusia tidak diciptakan untuk hidup seperti ini," ujar Jawaad, 13, seorang anak pengungsi tanpa pendamping dari Afghanistan di Kamp Calais, Prancis.
Selain Jawaad, ratusan anak lainnya terdampar di Kamp Calais yang juga disebut Kamp Belantara.
Ini merupakan sebuah kamp pengungsi dan imigran, termasuk anak-anak tanpa pendamping yang terletak di kota pelabuhan Calais, sebelah utara Prancis.
Seperti dilaporkan the Guardian, saat ini, populasi kamp itu sudah mencapai lebih dari 9.000 orang, dengan 860 di antaranya adalah anak.
Jumlah itu diperkirakan akan terus meningkat.
Mereka tinggal di tenda-tenda darurat dan gubuk kayu tipis yang terkadang bocor jika hujan deras.
Mereka hanya memiliki baju yang dipakai dan hanya makan satu kali sehari atau bahkan tidak makan sama sekali.
Anak-anak tersebut terdampar di kamp itu tanpa orangtua atau pendamping.
Para relawan menjadi satu-satunya yang bisa mereka harapkan di kamp yang terletak di sepanjang jalan tol dengan kepungan kawat berduri dan hanya berjarak 30 mil dari Inggris.
Para relawan membuat sebuah pondok kayu sebagai ruang pertemuan yang aman untuk anak-anak tanpa pendamping.
Di pondok tersebut belasan anak laki-laki, terutama remaja awal, menunggu makanan, sedangkan setengah lagi menghabiskan waktu menonton film Bollywood.
Kebanyakan dari anak-anak ini berada di kamp tersebut dengan harapan bisa menyeberang ke Inggris.
Beberapa dari mereka berulang kali melarikan diri dengan melompat masuk ke kereta api atau menyelundup masuk ke truk-truk yang menuju 'Negeri Singa' itu.
Seperti dua anak kecil berusia 9 dan 10 tahun yang juga berasal dari Afghanistan.
Mereka berdua terdampar di Kamp Calais sejak akhir tahun lalu.
Berbulan-bulan mereka mencoba untuk bertahan hidup dan telah mencoba lebih dari 20 kali dalam satu bulan berusaha untuk naik truk yang akan membawa mereka ke Inggris untuk bertemu paman mereka.
Semua upaya tersebut harus pupus dengan sejumlah peluru karet yang ditembakkan polisi Prancis.
"Saya kehilangan pikiran saya di sini. Saya tidak ingat apa saja yang telah saya lakukan. Kami lari dari perang, tapi tidak ada seorang pun yang membantu kami di sini. Sekarang cuaca semakin dingin," ujar anak tersebut melalui penerjemah.
Putus asa
Beberapa anak seperti Jawaad mengaku sudah putus asa dan takut untuk terus mencoba masuk ke Inggris karena polisi Prancis akan mengejar dan memukuli mereka.
Bahkan polisi juga akan mengirim anjing-anjing untuk mengejar mereka.
Para relawan sudah terbiasa melihat anak-anak dengan luka di kepala mereka karena jatuh dari truk atau terkena semprotan merica di wajah mereka.
"Mereka harus meninggalkan kamp ini sekarang. Mereka sendirian melewati musim dingin dan berantakan di depan kami. Tidak ada yang mengantar mereka tidur dan memilihkan pakaian untuk mereka. Mereka tidak berfungsi dengan baik sekarang," tutur salah satu relawan yang juga tinggal di Kamp Calais, Liz Clegg.
"Saya tidak percaya tidak ada satu pun orang dari pihak otoritas yang mengatasi ini. Pemerintah Inggris telah berjanji membantu sementara pemerintah Perancis tidak membantu," imbuhnya.
Clegg dan relawan lainnya telah mengabdikan banyak energi mencoba membujuk anak-anak tersebut untuk mengajukan permohonan suaka ke Prancis.
Memang sudah banyak yang mengajukan, namun beberapa anak sulit untuk dibujuk karena berpikir bahwa orangtua mereka sudah mengeluarkan banyak uang untuk mengirim mereka ke Inggris yang kebanyakan merupakan tempat para kerabat mereka.
Pemerintah Inggris sendiri belum terlihat melakukan apa pun terkait masalah ini.
Sebelumnya sebuah angin segar muncul dari Alf Dubs, seorang politikus Inggris dari Partai Buruh pada awal tahun ini.
Ia menjadi pelopor kudeta politik yang berhasil memaksa pemerintah berjanji untuk memberikan perlindungan bagi sekitar 88.000 anak pengungsi yang tidak memiliki pendamping melalui Amandemen UU Imigrasi.
Namun, empat bulan pasca-amandemen tersebut, tidak ada satu pun anak-anak pengungsi yang tiba di Inggris.
Nasib mereka di kamp itu kian tidak menentu setelah pekan lalu jalanan di sekitar Kota Calais diblokade petani-petani Prancis, pengemudi truk, dan penduduk lokal.
Mereka menuntut pemerintah untuk menetapkan tanggal pasti pembersihan Kamp tersebut.
Pemerintah Prancis sendiri mengatakan kamp tersebut akan ditutup sebelum Natal.
Namun, rencana untuk para pengungsi masih belum jelas. (Ihs/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved