Mereka Rentan Dieksploitasi

13/9/2016 00:45
Mereka Rentan Dieksploitasi
(AFP/LOUISA GOULIAMAKI)

"SAYA orang Suriah," ucap seorang gadis kecil di pusat Kota Beirut, Libanon, dalam bahasa Prancis.

Dengan mengungkapkan identitasnya, ia berharap mendapat sumbangan dari para pelintas di sebuah jalan.

Namun, ketika seseorang mencoba menanyakan namanya, gadis peminta-minta itu justru melarikan diri.

Pengungsi anak dengan kondisi menyedihkan banyak ditemui di jalan-jalan yang tersebar di ibu kota Libanon.

Mereka biasa mengharap uang dengan menjual permen karet, bunga mawar, atau jasa semir.

"Ada begitu banyak dan bahkan kemudian sulit untuk memahami skala masalah ini. Lima tahun terakhir ini telah menjadi masa-masa tragis," kata Iskandaryan Arveen, yang bekerja di badan amal anak-anak Jabid.

Badan amal dan kelompok hak asasi mengkhawatirkan bahwa aksi mengemis yang dijalani anak-anak hanyalah puncak dari gunung es.

Mereka sangat rentan menjadi korban human trafficking dan aksi kejahatan lainnya.

"Geng terorganisasi menargetkan anak-anak Suriah rentan untuk pekerjaan seks dan kegiatan kriminal lainnya," ujar Maher Tabarani, Direktur Home of Hope, satu-satunya organisasi di Beirut yang mendedikasikan perhatian untuk membantu anak-anak di jalanan.

"Hampir semua anak-anak yang datang kepada kita telah dilecehkan secara seksual, diperdagangkan, dan beberapa bahkan ditetapkan untuk perdagangan organ. Ini mengejutkan mendapati apa yang anak-anak telah lalui dan dialami di usia mereka yang sangat muda," tegasnya.

Sejak foto bocah tiga tahun, Alan Kurdi, mati terdampar di pantai Turki muncul setahun yang lalu, fokus dunia telah bergeser dari krisis pengungsi di Eropa ke foto Omran Daqneesh, seorang bocah lima tahun yang duduk dalam kondisi mengenaskan di ambulans.

Ia menjadi korban serangan udara pasukan pemerintah yang dibantu militer Rusia di Aleppo, Suriah.

"(Gambar Alan Kurdi) telah menjadi ikon, sedangkan perhatian peliputan media mengenai jutaan anak-anak Suriah lainnya yang melalui penderitaan serupa telah kian menyusut," tegas Tanya Chapuisat dari Unicef Country Representative di Libanon.

"Para keluarga dari ratusan ribu anak masih hidup dalam kondisi seperti keluarga Alan yang melarikan diri dan masih dipaksa untuk mengambil keputusan yang sama seperti keluarga itu dalam masalah hidup dan mati," kata Tanya.

Diperkirakan 1,3 juta warga Suriah telah mengungsi ke Yordania.

Lebih dari 1,5 juta orang telah melarikan diri ke Libanon sejak gerakan pemberontakan di Suriah untuk menumbangkan rezim Bashar Al-Assad meletus sejak 2011.

Sementara itu, laporan 2015 dari UNICEF memperkirakan setidaknya ada 400 ribu anak Suriah di Libanon.

Padahal sistem sekolah di negara tersebut sudah lumpuh secara finansial dan hanya mampu menampung sekitar setengah dari total anak pengungsi Suriah.

Jumlah orang yang melarikan diri ke Libanon, sebuah negara kecil, telah mengubah lansekap populasi di sana.

Kini, satu dari empat orang di Libanon ialah pengungsi, yang menjadikan negeri itu paling besar menampung pengungsi per kapita.

Masalah yang dihadapi pengungsi Suriah di Libanon sama seperti halnya migran dari Palestina yang menjadi korban perang Arab-Israel 1948.

Karena pemerintah Libanon tidak memberikan status kewarganegaraan kepada mereka, para pengungsi menjadi objek kemiskinan dan eksploitasi oleh para tuan tanah.

UNHCR mengatakan pembatasan visa baru-baru ini yang diberlakukan pemerintah Libanon cenderung untuk mendorong lebih banyak lagi pengungsi jatuh ke dalam lubang kemiskinan. (Independent/Hym/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya