Jutaan Anak di Dunia Berstatus Pengungsi

Thomas Harming Suwarta
13/9/2016 00:30
Jutaan Anak di Dunia Berstatus Pengungsi
(AP/EMRAH GUREL)

BADAN Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang mengurusi anak-anak (UNICEF) dalam keterangannya Rabu pekan lalu mencatat setidaknya 50 juta anak telah menjadi pengungsi di seluruh dunia.

Rata-rata anak-anak tersebut merupakan korban perang, kekerasan, dan penganiayaan.

Potret memilukan yang tak terbantahkan dari kenyataan dan tidak akan pernah terhapus dari ingatan ialah jasad Aylan Kurdi.

Seorang bocah tiga tahun dari Kobane Suriah yang terdampar dengan posisi tubuh telungkup di bibir pantai di wilayah Turki.

"Tentu juga sebuah potret wajah tertegun dan penuh darah dari Omran Daqneesh, bocah asal Suriah, saat ia duduk di ambulans setelah ditemukan dari antara reruntuhan rumahnya yang hancur. Itu semua telah mengejutkan dunia," ujar Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake.

"Tapi setiap potret tersebut, setiap anak laki-laki dan perempuan, tentu saja mewakili jutaan anak di seluruh dunia yang sedang dalam bahaya dan ini menuntut belas kasihan dari kita untuk mereka," papar Lake.

Dalam laporannya, UNICEF menemukan bahwa jutaan anak-anak yang menjadi pengungsi tersebut terdapat 28 juta anak yang terpaksa meninggalkan rumah mereka secara paksa.


17 juta anak telantar

Anak-anak tersebut merupakan korban dari kekerasan dan konflik baik di dalam negara mereka maupun yang terjadi lintas negara.

Kini tercatat sekitar satu juta anak yang mencari masih berstatus pengungsi.

Bukan hanya itu, sebanyak 17 juta anak terpaksa hidup telantar di negara mereka sendiri karena tidak mendapat akses bantuan kemanusiaan.

Selain itu, sekitar 20 juta anak lainnya telah meninggalkan rumah mereka karena berbagai alasan termasuk kekerasan geng atau kemiskinan.

"Dengan data ini, sebagian besar dari anak-anak tersebut sangat berisiko mengalami pelecehan dan penahanan karena mereka tidak memiliki dokumen, status hukum yang tidak pasti, dan tidak ada pelacakan sistematis dan pemantauan terhadap kondisi jaminan kesejahteraan mereka," kata Lake.

Dalam data-data tersebut, banyak anak-anak yang telah sering melakukan perjalanan ke luar negara mereka tanpa didamping orangtua mereka.

Setidaknya 100 ribu anak mengajukan permohonan suaka yang tersebar di 78 negara pada 2015.

Jumlah tersebut terus naik hingga tiga kali lipat jika dibandingkan dengan 2014.

Bahkan pada 2015, sekitar 45% dari pengungsi anak-anak di bawah perawatan badan pengungsi PBB berasal dari Suriah dan Afghanistan.

Dengan kondisi tersebut, UNICEF mendesak semua pemerintah untuk mengakhiri penahanan anak-anak yang bermigrasi atau mencari status pengungsi.

Tujuannya agar para pengungsi anak tersebut mendapat akses ke pelayanan kesehatan serta melepaskan mereka dari proses diskriminasi dan marginalisasi.

Di sela-sela sidang umun PBB tahun ini, isu migrasi juga diangkat dalam topik pembicaraan.

"Kami ingin melihat dan merumuskan komitmen yang jelas dan langkah-langkah praktis tentang hal ini," kata Deputi Direktur Eksekutif UNICEF Justin Forsyth kepada wartawan di New York, Amerika Serikat (AS), baru-baru ini.

"Justru pembagian beban krisis (pengungsi anak) ini tidak adil. Beban terbesar ditanggung negara-negara tetangga (dari negara yang dilanda konflik) atau negara-negara miskin," ujar Forsyth.

Forsyth mengatakan pertemuan puncak PBB pada mendatang akan kembali membahas soal anak-anak yang menjadi pengungsi.

Ia mengakui pertemuan tersebut belumlah memadai untuk menuntaskan pengungsi anak.

Tetapi, tegas dia, UNICEF tidak akan pernah lelah untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut.


Derita anak Afrika

Bulan lalu, PBB juga melaporkan bahwa hampir satu juta pengungsi melarikan diri dari konflik brutal di Sudan Selatan.

Sebagian besar dari pengungsi tersebut yang menderita di kamp-kamp penampungan ialah anak-anak dan kaum perempuan.

UNHCR menjelaskan para pengungsi yang terdiri dari anak-anak dan perempuan tersebut memasuki wilayah Uganda.

Jumlah pengungsi dari Sudan Selatan yang dilanda konflik bersenjata telah mencapai puncaknya dan bahkan lebih dari 8.000 dalam satu hari pada Agustus lalu.

PBB menegaskan 90% dari para pengungsi tersebut ialah perempuan dan anak-anak.

"Dengan kedatangan para pengungsi dari Sudan Selatan yang jumlahnya ribuan orang, negara-negara yang didatangi tak lagi mampu menangani mereka. Apalagi dalam jumlah ribuan orang," jelas pihak UNHCR. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya