KETEGANGAN antara Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut) mereda setelah kedua belah pihak bersedia untuk berunding, kemarin. Padahal, sebelumnya pasukan militer dua negara tersebut bersiaga untuk menghadapi perang.
Perundingan itu digelar hanya selang satu jam sebelum pukul 17.00 waktu setempat yang menjadi batas akhir waktu yang diberikan Korut kepada Korsel menghentikan propaganda anti-Korut melalui pengeras suara di wilayah perbatasan.
Perundingan dilaksanakan di desa gencatan senjata, Panmunjom, yang berada di zona demiliterisasi wilayah Korsel. Bersamaan dengan pelaksanaan perundingan, area wisata Imjingak di Kota Paju yang jaraknya 7 kilometer telah ditutup bagi para wisatawan.
Perundingan dihadiri sejumlah perwakilan dari kedua negara. Korsel mengutus Kepala Keamanan Nasional Korsel, Kim Kwan-jin, dan Menteri Unifikasi, Hong Yong-pyo.
Sementara itu, Korut dihadiri Wakil Panglima Tentara Rakyat Korut (KPA), Hwang Pyong-so. Korut juga mengutus wakil dari Kim Jong-un, Hwang Byong-seo, dan Kim Yang-gon, negosiator veteran yang aktif sejak pemerintah Korut di bawah kepemimpinan Kim Jong-il, ayah Kim Jong-un.
Sebelumnya pada Jumat (21/8), Presiden Korsel Park Geun-hye mengatakan kepada komandan militernya bahwa provokasi Korut 'tidak bisa ditoleransi'. Sekjen PBB Ban Ki-moon menyerukan kedua negara untuk menahan diri.
Sebagai sekutu Korsel, Amerika Serikat (AS) meminta Korsel menghindari ketegangan lebih lanjut. Kendati telah menempatkan 30 ribu tentaranya di Korsel, AS berjanji untuk mendukung Korsel. Hal itu disampaikan Pemimpin dari Gabungan Kepala Staf AS Jenderal Martin Dempsey.
Seruan untuk menahan diri juga datang dari Tiongkok sebagai sekutu Korut. "Kami mendesak kedua pihak untuk tenang dan menahan diri," kata juru bicara pemerintah Tiongkok, Hua Chunying.
Dari Korsel, kemarin, delapan jet tempur F-16 milik Korsel dan AS menggelar simulasi pengeboman. Pihak militer Korsel mengatakan latihan itu sebagai upaya antisipasi serangan militer Korut. (AFP/CNN/Yonhap/Aya/I-3)