KTT ASEAN Tunduk pada Tekanan Tiongkok

06/9/2016 05:52
KTT ASEAN Tunduk pada Tekanan Tiongkok
(Ist)

PARA pemimpin negara di Asia Tenggara akan menghindari pembahasan resmi mengenai keputusan arbitrase yang menolak klaim Tiongkok atas wilayah di Laut China Selatan dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang dimulai di Laos, Selasa (6/9).

Draf deklarasi akhir para pemimpin itu yang diperoleh AP tidak menyebutkan pembahasan keputusan tersebut.

Namun, draf itu menyatakan dengan tegas bahwa keprihatinan negara-negara ASEAN terhadap aktivitas pembangunan pulau-pulau buatan yang dilakukan Tiongkok di Laut China Selatan.

Negara-negara ASEAN khawatir langkah Tiongkok itu bisa memicu ketidakstabilan kawasan.

Draf itu disusun para pejabat negara-negara Asia Tenggara. D

raf deklarasi akhir tersebut nantinya tidak mendapat perubahan berarti.

Para pejabat mengatakan Presiden Filipina Rodrigo Duterte akan bertanya kepada Perdana Menteri Tiongkok apakah 'Negeri Mao Zedong' itu sedang membangun pulau karang sengketa lainnya, Scarborough Shoal, di lepas pantai barat laut Tiongkok.

Pekan lalu, Duterte mengatakan penjaga pantai Filipina mendapati tongkang-tongkang Tiongkok di sekitar pulau itu.

Hal itu memicu kecurigaan Tiongkok tengah membuat pulau buatan di atas karang tersebut.

Menurut seorang pejabat Filipina, satu kapal Tiongkok juga dilengkapi dengan sebuah crane.

Pemerintah Filipina telah memanggil Dubes Tiongkok di Manila tentang kehadiran tongkang itu.

Namun, pejabat itu membantahnya.

Tiongkok telah memicu kemarahan banyak negara lantaran telah mengubah tujuh pulau karang di Kepulauan Spratly yang disengketakan menjadi pulau. A

merika Serikat menuding pulau-pulau itu akan dijadikan pangkalan militer untuk memperkuat klaim wilayah Tiongkok dan mengitimidasi negara-negara lain.

"Kami sangat prihatin terhadap perkembangan yang sedang berlangsung dan baru-baru ini. Kami mencatat keprihatinan beberapa pemimpin mengenai reklamasi lahan dan eskalasi kegiatan di kawasan itu," demikian bunyi draf deklarasi akhir ASEAN tersebut.

Reklamasi dan tindakan-tindakan lain telah menggerus kepercayaan dan keyakinan, meningkatkan ketegangan, bisa merusak perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan. (AP/Ire/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya