Misi Isolasi Menuju Mars

06/9/2016 04:14
Misi Isolasi Menuju Mars
(AFP)

SEJUMLAH orang, terdiri atas pilot, dokter, wartawan, dan ahli pertanahan, tinggal dan menetap di sebuah kubah di Hawaii.

Tempat itu tadinya sebuah peternakan yang sudah tidak digunakan.

Di tempat itu, para relawan mengikuti eksperimen yang diadakan Badan Antariksa AS (NASA) dan tinggal selama setahun di tempat tersebut.

Sejak 28 Agustus tahun lalu, mereka (terdiri atas tiga pria dan tiga wanita) hidup terisolasi dari dunia luar.

Eksperimen yang dilakukan di lereng tandus gunung berapi Mauna Loa itu bertujuan mempelajari kondisi mental dan psike manusia selama jangka waktu penerbangan ke angkasa luar yang memakan waktu lama.

Dipilihnya tempat itu bukan tanpa alasan.

Tanah vulkanis di Mauna Loa sangat mirip dengan komposisi mineral tanah di Planet Mars.

Uji coba itu akhirnya rampung pada 28 Agustus lalu, persis setahun sejak mereka memasuki kubah isolasi tersebut.

Begitu mereka keluar dari isolasi, sebuah rekaman video menunjukkan tiga pria dan tiga wanita kru NASA tersebut berwajah bingung ketika bertemu pengunjung dan simpatisan.

Beberapa orang mengajak mereka berswafoto, kemudian penyelenggara memberi mereka buah-buahan dan sayuran segar.

'Selamat untuk NASA dan ilmuwan yang membawa kita selangkah lebih dekat dengan Mars. Sekarang nikmati Hawaii dan es serut', tulis Presiden AS Barack Obama melalui pesan di Twitter.

Menurut para kru, kehidupan yang monoton ialah bagian tersulit dalam eksperimen tersebut.

Stimulasi rangsangan juga tidak cukup.

Selain itu, isolasi dan kurangnya udara serta makanan segar menjadi tantangan terberat yang dialami para calon astronaut itu.

Eksperimen yang dikenal dengan Eksplorasi Analog dan Simulasi Luar Angkasa Hawaii (HI-SEAS) itu menjadi eksperimen ketiga dan eksperimen terlama.

Selama isolasi itu, para kru tinggal dalam kubah berdiameter 11 meter dan tinggi 6 meter yang didukung tenaga surya.

Para pria dan wanita memiliki kamar kecil dengan ruang untuk tandu tidur dan meja. Kubah itu juga memiliki toilet kompos serta kamar mandi dan akses internet yang terbatas.

Para kru hanya bisa keluar jika menggunakan baju angkasa luar dan tidak pernah menghirup udara luar ataupun makan produk makanan segar.

Mereka cuma diizinkan mengonsumsi makanan yang disediakan, seperti keju bubuk dan tuna kaleng.

"Kami selalu di tempat yang sama, selalu dengan orang yang sama," ujar astrobiologis asal Prancis, Cyprien Verseux, yang menjadi peserta misi tersebut.

Namun, meski kemonotonan ialah bagian tersulit, Verseux mengatakan eksperimen tersebut menunjukkan misi menuju Mars di masa depan masuk akal atau realistis untuk dilakukan.

Verseux juga mengatakan halangan utama ialah memproduksi makanan dan ekosistem skala kecil di Mars dengan atmosfer tipis, tanah yang kering, dan air yang langka.

Eksperimen itu memang tidak menguji pertumbuhan tanaman dan hanya berfokus pada studi psikologis para kru yang menurut Verseux bisa diatasi.

"Masalah-masalah teknis dan psikologis dapat diatasi," ujar Verseux.

Dia menyarankan kepada para calon relawan baru yang ingin ikut percobaan isolasi itu agar membawa banyak buku untuk melawan kebosanan.

Kru lain asal AS, Tristan Bassingthwaighte, juga menyarankan hal yang sama. Untuk mengusir kebosanan, dia menari salsa dan memainkan okulele.

Keseluruhan analisis kinerja psikologis tim tersebut masih belum dipublikasikan, tapi diharapkan akan segera dikeluarkan dalam beberapa bulan mendatang.

"Kami baru memulai mewancarai mereka minggu ini," ujar ketua peneliti, Kim Binsted, kepada AFP.

NASA mempelajari skenario isolasi jangka panjang itu di Bumi sebelum astronaut menuju Mars yang diharapkan tercapai pada sekitar 2030.

Saat ini NASA telah mampu mengirim robot ke 'Planet Merah' dalam waktu sekitar delapan bulan.

Namun, astronaut yang menuju ke sana harus menempuh perjalanan yang lebih lama, yakni sekitar satu hingga tiga tahun. (AFP/Ihs/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya