Menetap di Planet Merah

Haufan Hasyim Salengke
06/9/2016 04:00
Menetap di Planet Merah
(AFP/NASA)

GAGASAN hidup di Mars telah menjadi pokok dari fiksi ilmiah sejak abad ke-19 ketika astronom Amerika Serikat (AS), Percival Lowell, berspekulasi bahwa saluran-saluran di 'Planet Merah' benar-benar kanal kuno yang dibangun makhluk angkasa luar yang cerdas.

Namun, jika fiksi ilmiah itu ialah mimpi yang menjadi kenyataan, apa rasanya jika manusia benar-benar hidup di sana?

Pada 5-6 Desember 2005, Badan Antariksa Eropa (ESA) menggelar pertemuan khusus di Berlin, Jerman.

Pertemuan pada 11 tahun lalu itu melahirkan pandangan dan keputusan yang amat penting bahwa 75% ilmuwan percaya kehidupan pernah ada di Planet Mars.

Di samping itu, sebanyak 25% ilmuwan lain meyakini saat ini kehidupan itu masih ada di 'Planet Merah'.

Dari pertemuan itu, paradigma sejumlah kalangan, khususnya komunitas ilmuwan internasional, terus bergeser dari pesimistis menuju optimistis tentang adanya kehidupan di planet itu.

Sebelumnya, pada 1996, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) pun pernah menunjukkan bukti kehidupan berupa fosil bakteri pada meteorit Mars.

Pada 1965, pesawat angkasa luar NASA, Mariner 4, menyelesaikan terbang lintas kehidupan Mars untuk kali pertama.

Enam tahun kemudian, Mars 3, menjadi pesawat angkasa luar pertama Soviet yang mendarat dengan mulus di Mars.

Sejak itu banyak misi ke 'Planet Merah' yang menuai kesuksesan, termasuk pengerahan empat wahana penjelajah Mars, yaitu Sojourner dan Spirit, yang sekarang sudah tidak berfungsi, dan Opportunity dan Curiosity yang masih aktif; serta pesawat angkasa luar NASA, Mars Odyssey, yang memproduksi sebuah peta keseluruhan planet itu.

NASA kini berencana mengerahkan misi berawak ke Mars, yang dijadwalkan dilakukan pada 2030-an.

Belum diketahui di mana astronaut-astronaut mereka akan mendarat di Mars untuk misi itu.

"Anda mungkin ingin basis permanen di suatu tempat di lintang utara bawah," kata Ashwin Vasavada, seorang wakil proyek ilmuwan NASA yang bekerja untuk Mars Science Laboratory, kepada Space.com.

Musim dan cuaca

Seperti Bumi, Mars memiliki musim karena kemiringan planet itu pada porosnya.

Namun, Mars juga memiliki efek musiman sekunder karena orbitnya yang sangat elips.

Jika Anda tinggal di belahan utara Mars, Anda akan menikmati sekitar 7 bulan musim semi, 6 bulan musim panas, sekitar 5 bulan musim gugur, dan hanya sekitar 4 bulan musim dingin.

Setahun di Mars sama dengan sekitar 1,88 tahun di Bumi, dan sehari berlangsung lebih dari 24 jam.

Suhu rata-rata di Mars ialah minus 80 derajat fahrenheit (minus 60 celsius). Namun, temperatur di sana dapat berkisar antara minus 195 derajat F (minus 126 derajat C) pada musim dingin di dekat kutub dan 68 derajat F (20 derajat C) selama musim panas di dekat khatulistiwa.

Suhu di sana juga dapat berubah secara drastis dalam waktu seminggu.

Variasi suhu Mars sering menyebabkan badai debu yang kuat yang kadang-kadang dapat menyelubungi seluruh planet itu dalam beberapa hari.

"Meskipun badai ini mungkin tidak akan membahayakan Anda secara fisik, debu bisa menyumbat elektronik dan mengganggu instrumen bertenaga surya," ujar Vasavada.

Karena hanya memiliki kepadatan sekitar 1% dari atmosfer bumi, atmosfer Mars cukup tebal untuk membakar meteor yang lebih kecil daripada kelereng.

Lantaran meteor yang lebih besar daripada itu relatif jarang, ujar dia, kemungkinan Mars terhantam oleh meteor amat kecil.

"Anda juga tidak perlu terlalu khawatir akan aktivitas tektonik dan vulkanis ketika tinggal di Mars," kata Vasavada.

Namun, menetap di Mars bukan berati tanpa risiko atau bahaya.

"Satu hal yang akan dikhawatirkan astronaut ialah radiasi dari angkasa luar," tegas Vasavada.

Tidak seperti Bumi, Mars tidak memiliki medan magnet global dan atmosfer tebal untuk melindungi permukaan dari radiasi.

Bagaimana jika kita tertimpa kemalangan lalu ingin mengirimkan pesan singkat? Ia menjelaskan pesan yang dikirim ke Bumi akan sampai dalam waktu kira-kira 15 menit.

"Meskipun tidak terlalu lama, itu pasti cukup mengganggu dan akan menyulitkan interaksi Skype dengan siapa pun," ungkap Vasavada.

Dalam hal cuaca, di sana mungkin akan tampak awan tipis atau cuaca pagi yang dingin karena udara Mars mengandung kelembapan rendah yang berasal dari es kutub.

Namun, di sana tidak akan ditemukan awan badai di langit atau hujan yang menghujam tanah.

Pada siang hari, langit umumnya memiliki warna oranye karena debu, kecuali area sekitar matahari yang berwarna biru.

Matahari terbit dan terbenam pun terlihat mirip dengan yang ada di Bumi.

Menurut para ilmuwan, permukaan Mars menawarkan sebuah peluang besar untuk tamasya.

"Jika kita benar-benar mendiami Mars, tentu ada tempat-tempat yang akan menjadi taman-taman nasional," kata Vasavada.

Kelangsungan hidup

Kepala Program NASA, Charles Bolden, dua tahun lalu, mengatakan tujuan misi berawak ke Mars yang terpenting ialah melanjutkan kehidupan spesies manusia.

NASA mengumumkan rencana ambisius untuk menempatkan manusia di 'Planet Merah' paling lambat dilakukan pada 2030.

Bolden mengklaim misi penting itu amat mungkin, terjangkau, dan perlu bagi umat manusia meskipun tantangannya sangat besar.

Ia memaparkan ada tiga 'batu loncatan' yang akan menjadi jalan menuju Mars, termasuk 'menangkap' asteroid dan mengarahkannya kembali ke orbit bulan pada 2015, menumbuhkan tanaman di angkasa luar, dan menggunakan printer 3D untuk menjalankan pemeliharaan lewat ruang pesawat.

"Jika spesies (manusia) ini hidup dalam waktu tanpa batas kita perlu menjadi spesies multiplanet, kita perlu pergi ke Mars, dan Mars ialah batu loncatan ke sistem solar lainnya," ujar Bolden kepada The Times.

Demi meraih semua misi dan rencana itu, kata Bolden, peningkatan pendanaan dari Gedung Putih sangat diperlukan. (Space.com/CNN/ Telegraph/Hym/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya