Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
DELAPAN bulan setelah 195 negara menyimpulkan pakta penyelamatan iklim di Paris, Prancis, tekanan terhadap negara-negara di dunia yang telah berjanji untuk memangkas emisi rumah kaca mereka ke dalam sebuah tindakan konkret terus meningkat.
Kini, isu perubahan iklim itu juga menjadi sorotan ketika pemimpin dunia berkumpul di KTT G-20 dan pertemuan PBB bulan ini.
Kesepakatan Paris pada Desember lalu telah ditandatangani 180 negara, tetapi baru berlaku setelah 55 negara yang bertanggung jawab untuk 55% dari emisi gas rumah kaca global meratifikasi.
Tiongkok dan Amerika Serikat (AS), yang sama-sama bertanggung jawab untuk sekitar 38% dari emisi global, Sabtu (3/9) akhirnya meratifikasi perjanjian tersebut, bertepatan dengan malam pertemuan para pemimpin G-20 di Hangzhou, Tiongkok.
Langkah kedua negara itu meningkatkan upaya memerangi pencemaran lingkungan. Pasalnya, Beijing dan Washington ialah pencemar lingkungan terbesar di dunia.
Tiongkok bertanggung jawab untuk hampir seperempat dari emisi dunia, dan AS di tempat kedua dengan sekitar 15%, sehingga partisipasi mereka sangat penting.
"Ini bukan perjuangan yang dapat dilakukan secara sendirian oleh satu negara, bagaimanapun besarnya," kata Presiden AS Barack Obama.
"Kelak kita mungkin akan memandang ini sebagai saatnya, dan kita akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan planet ini," tegasnya.
Presiden Tiongkok Xi Jinping berharap ratifikasi Perjanjian Paris itu akan bermanfaat bagi semua penduduk bumi.
"Tanggapan kami terhadap perubahan iklim berhubungan dengan masa depan rakyat kami dan kesejahteraan umat manusia," ujar Xi.
Dua pemimpin negara yang tengah berjibaku menjadi yang paling berpengaruh di Asia Pasifik itu kemudian menyerahkan dokumen ratifikasi ke Sekjen PBB Ban Ki-moon.
Ban pun memuji dengan menyatakan ia sekarang optimistis Perjanjian Paris akan berlaku penuh akhir tahun ini.
Kalangan pemerhati lingkung-an memperingatkan tidak ada waktu lagi bagi semua negara untuk tidak bertindak sekarang untuk mencegah kerusakan planet ini.
Perjanjian Paris bertujuan mencegah temperatur global meningkat menjadi 2 derajat celsius.
"Karena 2016 menuju ke dalam buku rekor sebagai kemungkin-an tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah. Itu adalah pengingat bahwa kita memiliki sedikit waktu berharga yang tersisa untuk bertindak menjaga suhu global di bawah 2 derajat," tegas Pascal Canfin dari kelompok lingkungan World Wildlife Fund (WWF).
"Momen ini harus dilihat sebagai titik awal, bukan akhir, dari aksi global terhadap iklim," kata penasihat kebijakan Greenpeace, Li Shuo.
Desak Tiongkok
Mengenai isu Laut China Selatan, Obama menekan Presiden Tiongkok Xi Jinping agar memenuhi kewajiban hukum terkait perselisihan di wilayah tersebut.
Hal itu disampaikan Obama menjelang KTT G-20 yang berlangsung di Hangzhou, bagian timur Tiongkok, Minggu (4/9).
Ketegangan yang diakibatkan perselisihan soal perairan antara Tiongkok dan para tetangganya diperkirakan mewarnai KTT tersebut meski Tiongkok menginginkan acara terbesar di 2016 itu berjalan lancar.
Setelah lebih 4 jam pertemuan-pertemuan dengan Xi dan para pejabat tingginya, Obama menekankan pentingnya bagi Tiongkok 'untuk mematuhi kewajiban-kewajibannya' kepada sebuah perjanjian maritim internasional dalam perselisihan itu mengenai hak-hak atas sebuah wilayah yang kaya minyak dan ikan.
Sebuah mahkamah di Den Haag membuat keputusan pada Juli bahwa Tiongkok tak memiliki hak sejarah atas perairan di Laut China Selatan.
Gugatan tersebut diajukan Filipina yang membawa kasus itu beradasarkan Konvensi PBB mengenai Hukum laut (UNCLOS).
Namun, Tiongkok menolak keputusan itu dan menuduh Amerika Serikat memicu masalah perairan itu. (AFP/AP/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved