Melunak setelah Dikecam

27/8/2016 08:20
Melunak setelah Dikecam
(AFP / NOEL CELIS)

PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) dan para aktivis hak asasi manusia boleh memprotes dan mengecam, tapi sikap pemerintah Filipina bak pepatah 'anjing menggogong kafilah berlalu'.

Bahkan, pernyataan kepala kepolisian Filipina Ronald dela Rosa cukup mengejutkan.

Ia menyarankan para pengguna narkoba tak segan membunuh pengedar dan bandar narkoba.

Jika perlu, bakar rumah-rumah para pengedar dan bandar narkoba.

"Jangan segan-segan. Bila perlu, tuangkan bensin ke rumah mereka lalu bakar untuk memperlihatkan bahwa Anda juga sebetulnya korban dan Anda berhak marah," ucap Dela Rosa saat berpidato pada Kamis (25/8), yang disiarkan televisi setempat.

Dela Rosa terus mengompori para pengguna narkoba untuk perang melawan kejahatan narkoba.

"Mereka sudah menikmati uang Anda. Uang yang menghancurkan otak Anda."

Dengan nada murka, sang kepala kepolisian melontarkan pertanyaan,

"Anda tahu siapa bandarnya? Nah, apakah Anda tidak ingin membunuh mereka?"

"Saya perintahkan, silakan. Anda boleh membunuh mereka karena Anda ialah korban," kata Dela Rosa menjawab pertanyaan sendiri.

Pernyataan Dela Rosa itu disampaikan di hadapan ratusan pengguna narkoba yang telah menyerahkan diri ke kantor kepolisian di wilayah tengah Filipina, Kamis (25/8).

Namun, ungkapan tersebut bukanlah pernyataan pribadi dari Dela Rosa.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pemikiran Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang menegaskan bahwa pemerintahnya bersikap tegas dan keras terhadap para penjahat dan pengedar narkoba.

Jauh sebelum menjabat presiden, saat menjabat Wali Kota Davao, Duterte telah menerapkan sikap tegas dan kerasnya tersebut.

Bahkan salah satu kesuksesan membasmi kejahatan telah mengantarkannya ke kursi kepresidenan.

Kendati baru menjabat enam bulan, pemerintahan Duterte telah menawaskan ratusan penjahat.

Pelapor khusus PBB tentang eksekusi, Agnes Callarmar, mengatakan tindakan keras dengan membunuh para penjahat dinilai sebagai tindakan ekstra yudisial dan sebuah kejahatan serta melanggar hukum.

Dela Rosa dan Duterte memiliki pendapat sendiri.

Mereka berkeras bahwa kebijakan tegas mereka masih tetap dalam koridor kebijakan hukum.

Namun, tekanan terus-menerus, baik dari dalam negeri maupun masyarakat internasional, telah membuat sikap Dela Rosa melunak.

"Saya minta maaf jika saya mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Banyak orang yang bereaksi. Saya sangat menyesal," kata Dela Rosa. (AFP/Thomas Harming Suwarta/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya