Italia Berlakukan Keadaan Darurat

Haufan Hasyim Salengke
27/8/2016 08:00
Italia Berlakukan Keadaan Darurat
(AP/EMILIO FRAILE, MARCO BRECCIAROLA)

PEMERINTAH Italia memberlakukan keadaan darurat di daerah-daerah yang paling parah terdampak gempa yang terjadi pada Rabu (24/8). Kota-kota yang paling parah terpapar gempa itu mencakup Amatrice, Arquata, Accumoli, dan Pescara del Tronto.

Perdana Menteri (PM) Matteo Renzi telah menjanjikan dana sebesar 50 juta euro (Rp750 miliar) untuk bantuan darurat dan rekonstruksi.

Hingga berita ini ditulis, Jumat (26/8), korban tewas meningkat menjadi 267 orang.

Sebanyak 367 lainnya terluka akibat gempa berkekuatan 6,2 pada skala Richter (SR) pada Rabu pukul 03.36 waktu setempat itu.

Banyak di antara korban tewas dan hilang yang merupakan wisatawan.

Namun, keberadaan sejumlah turis saat liburan musim panas membuat perkiraan jumlah korban yang masih hilang menjadi sulit dipastikan.

Di tengah pencarian intensif terhadap korban, lebih dari 900 gempa susulan telah mengguncang wilayah tengah Italia.

Kemarin, menjelang fajar, gempa susulan 4,7 SR memicu debu, menggoyang bangunan yang masih berdiri, dan memicu kekhawatiran terhambatnya operasi penyelamatan.

Kendati demikian, petugas terus melanjutkan pencarian di antara puing bangunan yang rubuh.

Getaran gempa kuat yang dirasakan hingga Roma yang jauhnya 161 kilomter itu menghancurkan ratusan bangunan tua dan mengubur Amatrice, kota terindah di Italia.

Selain dana pembangunan, PM Renzi juga menghapuskan pajak untuk para korban dan mengumumkan sebuah program baru bertajuk 'Rumah Orang Italia' untuk menjawab kritik terhadap konstruksi yang buruk.

Namun, lanjut dia, sungguh konyol jika orang-orang berpikir Italia dapat mendirikan bangunan yang benar-benar tahan gempa.

Program 'Rumah Orang Italia' muncul setelah media Italia mengkritik standar bangunan di area-area yang berisiko tinggi.

Bahkan, beberapa bangunan yang runtuh baru saja selesai direnovasi.


Dampak ekonomi

Kerugian atau kerusakan akibat gempa tidak cuma dihitung berdasarkan nyawa yang hilang, tetapi juga dari segi kota atau desa yang lenyap dikubur gempa.

Di Desa Pescara del Tronto, misalnya, mungkin tinggal lima rumah yang kini masih berdiri.

"Sulit bagi orang untuk pindah kembali ke Pescara del Tronto," ujar Michele Franchi, wakil wali kota setempat.

"Kami bahkan harus bertanya-tanya apakah bijaksana untuk membangunnya kembali di sana, mengingat desa itu hampir seluruhnya runtuh," ia menggambarkan.

Menurut dia, hal yang mendesak saat ini ialah merelokasi orang-orang yang tinggal di tenda-tenda darurat secepatnya.

Di samping itu, muncul juga kekhawatiran akan dampak negatif terhadap ekonomi Italia yang sudah stagnan.

Pengalaman masa lalu menunjukkan gempa selalu memiliki dampak negatif pada pariwisata di negara-negara yang dilanda bencana semacam itu.

Pariwisata sangat penting bagi Italia, yang memberikan kontribusi sekitar 4% dari produk domestik bruto (PDB).

Mayoritas warga yang selamat berkemah di tenda-tenda dengan membawa kantong plastik yang berisi beberapa barang, seperti pakaian, dokumen identitas, ponsel, dan dompet, yang berhasil mereka raih sebelum melarikan diri dari rumah yang bergoyang. (AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya