DENGAN dijaga seorang tentara, sekelompok seniman mengecat sebidang tembok luar yang mengelilingi Istana Kepresidenan Kabul, Afghanistan, akhir Juli lalu.
Mereka menggambar sepasang mata besar yang jernih dengan warna cerah. Di dekat gambar dua mata raksasa itu, tertera tulisan 'Korupsi tidak dapat disembunyikan dari Tuhan atau dari masyarakat'.
Para seniman itu memang tengah menggarap lukisan-lukisan dinding bertemakan antikorupsi.
Proyek tersebut bukanlah kampanye yang dilakukan tanpa izin atau secara diam-diam.
Grafiti antikorupsi tersebut justru mendapat dukungan dan restu dari Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.
Salah seorang seniman, Maryam, 25, menjelaskan dua mata yang dia gambar ialah simbol untuk semua masyarakat Afghanistan yang telah muak dengan korupsi.
"Mereka mengawasi para pejabat yang mungkin tergoda mengambil keuntungan diam-diam," ujarnya.
Bersama Maryam, Kabir Mokamel, seniman lain, memulai proyek itu sejak 3 tahun silam.
Mokamel mengaku kesal dengan tembok-tembok suram di Kabul.
Bersamaan dengan aksi balas dendam kelompok Taliban dalam beberapa tahun belakangan, tembok-tembok semen berwarna kelabu di Kabul telah diselimuti jamur.
Tembok-tembok itu menjadi pembatas sekaligus pelindung untuk orang-orang kaya dan pejabat yang berkuasa.
"Apakah tembok-tembok melindungi kita? Tidak, tembok-tembok itu hanya melindungi orang-orang di dalamnya. Dan saya, saya berada di luar tembok," cibir Mokamel.
Sejak kampanye antikorupsi melalui grafiti di tembok-tembok digencarkan, sisi jalan-jalan di Kota Kabul tampak lebih semarak.
Mokamel juga telah menuntaskan grafiti di dinding kantor pusat Badan Intelijen Afghanistan dan kini bertekad menyelesaikan lukisan di dinding istana kepresidenan.
Kampanye antikorupsi di Afghanistan ditulis dengan menggunakan dua bahasa utama, Dari dan Pashto.
Gaung gerakan antikorupsi melalui grafiti diharapkan bisa mengikis secara bertahap tindak korupsi yang telah merasuk ke semua level kehidupan terutama kalangan pejabat publik.
Apalagi 14 tahun setelah jatuhnya pemerintah Taliban, Afghanistan tetap terperosok dalam jurang korupsi.
Dalam laporan tahunan lembaga Transparansi Internasional, Afghanistan berada di nomor 172 dari 175 negara.
Budaya korupsi yang marak terjadi di Afghanistan biasanya menyangkut bantuan asing.
Nilainya mencapai miliaran dolar AS.
Bantuan dana asing yang dikucurkan sejak 2001 itu sedianya ditujukan untuk menciptakan stabilitas dan pembangunan.