Korsel Siap Balas Aksi Tanam Ranjau Korut

Andhika Prasetyo
11/8/2015 00:00
Korsel Siap Balas Aksi Tanam Ranjau Korut
(Australia THE DEFENSE MINISTRY VIA AP)
KOREA Selatan (Korsel) kemarin melayangkan ancaman keras terhadap Korea Utara (Korut). Korsel pun siap melakukan aksi balas dendam terhadap negara tetangganya yang dituduh telah memasang ranjau darat di zona demiliterisasi (DMZ) perbatasan kedua negara.

Ranjau darat di zona demiliterisasi telah memakan korban dua tentara Korsel yang sedang berpatroli pada Selasa (4/8) pekan lalu. Akibat ledakan ranjau, seorang tentara Korsel harus kehilangan satu kakinya. Satu tentara lain harus menjalani amputasi ganda.

"Saya bersumpah akan membuat Korut membayar mahal atas apa yang telah mereka lakukan," ujar Mayjen Koo Hong-mo, Kepala Staf Operasi Gabungan Korsel.

Koo menilai penanaman ranjau darat di DMZ sebagai tindakan yang tidak berdasar dan sebuah pelanggaran dari perjanjian nonagresi yang telah disepakati kedua negara.

"Dari hasil investigasi yang dilakukan, terdapat bukti yang menyimpulkan bahwa tentara dari Korut melintasi jalur DMZ dan masuk ke wilayah Korsel baru-baru ini untuk menanam ranjau," ujar pihak Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Komando PBB yang dipimpin AS tersebut beranggotakan staf dari Korsel, Selandia Baru, dan Kolombia. Komando PBB itu bertugas mengawasi gencatan senjata di DMZ.

Pihak Korsel telah mengumpulkan serpihan dari bom ranjau yang meledak. Fakta lain mengungkapkan bahwa serpihan bom itu dilapisi cat yang berasal dari Korut.

"Kami meyakini serpihan itu adalah ranjau darat yang ditanam Korut dengan tujuan membunuh musuhnya yang memasuki wilayah perbatasan," ujar Kim Min-Seok, juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel.

"Militer kami telah memutuskan untuk melanjutkan penyebaran propaganda terhadap Korut dengan menggunakan pengeras suara di sepanjang perbatasan," lanjut Kim. Tidak sebatas itu, pemerintah Korsel telah mendesak Korut untuk mengajukan permintaan maaf dan menghukum mereka yang telah bertanggung jawab atas aksi tersebut.

Pasti membantah
Yang Moo-Jin, profesor dari University of North Korean Studies di Seoul, Korsel, menyatakan bahwa Korut hampir dipastikan tidak akan mengakui mereka yang telah menanam bom ranjau tersebut. Yang mengatakan Korsel akan menghadapi kesulitan untuk menyimpulkan motif dari pemasangan ranjau tersebut. "Apa pun motif dari serangan tersebut, Korsel memiliki pilihan yang sangat terbatas untuk meresponsnya," ujar Yang.

Pengamat Korea dari lembaga International Crisis Group yang berkantor pusat di Belgia, Dan Pinkston, mengungkapkan secara realistis Korsel sangat sulit untuk melakukan tindakan pascatragedi tersebut. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya