Petugas Pos Penentang Bom Nuklir

Daily Mail/Aya/I-3
10/8/2015 00:00
Petugas Pos Penentang Bom Nuklir
(AP/EUGENE HOSHIKO)
PADA 9 Agustus 1945, Sumeteru Taniguchi, 86, yang tengah mengendarai sepedanya, tiba-tiba bom atom seberat 5 ton dijatuhkan pesawat militer AS dari udara ke tengah Kota Nagasaki, Jepang.

Cipratan dan guncangan bom itu menghempaskan tubuh Taniguchi yang saat itu menjadi petugas pos.

Sekujur tubuh Taniguchi yang saat berusia 16 tahun mengalami luka serius.

Kendati tubuhnya bak dilalap api, dia tidak tewas.

Padahal, saat itu, bom atom yang meluluhlantakkan kota pelabuhan itu merenggut lebih dari 74 ribu nyawa.

Setelah suara dahsyat bom atom berlalu, Taniguchi mengaku bingung.

Ia berjalan tanpa tujuan selama tiga hari.

Taniguchi yang bertubuh kerempeng tak peduli dengan rasa sakit pada punggungnya.

Namun, Taniguchi tetap merasakan seperti ada pakaian compang-camping yang masih melekat pada punggung, bahu, dan lengan yang terluka.

Akhirnya, ia menyadari bahwa kulitnya terkelupas dari tubuhnya.

Suasana pascaledakan bom menjadi semakin mencekam.

Pasalnya, pesawat militer AS menebarkan selebaran-selembaran yang memperingatkan warga Jepang bahwa bom atom akan kembali dijatuhkan jika 'Negeri Matahari Terbit' itu tidak menghentikan perang.

Enam hari kemudian Jepang menyerah.

Setelah diselamatkan, Taniguchi menghabiskan waktunya selama 21 bulan dengan tidur telungkup.

Punggungnya yang luka parah terus menerima perawatan dan pengobatan.

Rasa sakitnya yang tidak terbayangkan, Taniguchi pun kerap tak sadarkan diri.

Namun, ia mengaku masih bisa mendengar perawat-perawat yang meminta perawat lainnya memastikan dirinya masih bernapas atau sudah meninggal.

Kini, 70 tahun berselang, Taniguchi memperlihatkan bekas lukanya sebagai aksinya melawan penggunaan senjata nuklir.

Tubuhnya kini dipenuhi bekas luka yang terpatri selama 70 tahun.

Tiap pagi, istrinya mengoleskan punggungnya dengan krim untuk mengurangi iritasi.

Hingga masa tuanya, kini Taniguchi tetap aktif bersama kelompoknya melawan penggunaan senjata nuklir.

Ia dan rekan-rekannya berharap tidak akan ada seorang pun lagi yang akan merasakan penderitaan yang sama.

"Saya ingin semuanya berakhir," ucap Taniguchi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya