Australia Didesak Usut Kekerasan di Nauru

Thomas Harming Suwarta
16/8/2016 00:51
Australia Didesak Usut Kekerasan di Nauru
(AFP PHOTO / SAEED KHAN)

PIHAK oposisi, dalam hal ini Partai Buruh, mendesak pemerintah Australia untuk menyelidiki dugaan pelanggaraan hak asasi manusia yang terjadi di kamp pengungsi Pulau Nauru.
Nauru, negara terkecil di dunia seluas 20 km persegi yang terletak di Pasifik merupakan tempat penampungan para pencari suaka yang ingin memasuki Australia.
Kamp penampungan ini merupakan tanggung jawab pemerintah 'Negeri Kanguru'. i kamp penampungan ini kabarnya terjadi penyiksaan dan pelecehan terhadap para pencari suaka.
Kabar itu terkuak berdasarkan bocoran ribuan dokumen yang ditulis harian The Guardian belum lama ini. "Kami bahkan melihat lebih banyak lagi laporan dan temuan yang lebih parah," kata Pemimpin Partai Buruh, Bill Shorten, Senin (15/8).

"Hanya karena mereka tahanan, tidak berarti mereka harus dianiaya. Tidak berarti pula mereka harus dimasukkan ke dalam tahanan tanpa batas waktu," katanya kepada wartawan di Brisbane. "Itu sebabnya Partai Buruh paling depan mendesak senat untuk melakukan penyelidikan," sambungnya. Shorten menambahkan ia memang termasuk pihak yang sampai saat ini mendukung kebijakan penampungan pengungsi di Nauru dan Papua New Guinea (PNG) yang hendak memasuki Australia karena alasan keselamatan. Namun, hal itu tidak berarti para pengungsi dibiarkan begitu saja di kamp-kamp yang ada, tidak diperhatikan, bahkan disiksa dan dilecehkan. Berdasarkan dokumen yang bocor, dikatakan bahwa para pencari suaka di Nauru, termasuk anak-anak, mengalami berbagai macam kekerasan, baik fisik, mental, maupun seksual. "Temuan yang ada dalam dokumen tersebut harus secara sistematis dan benar-benar diselidiki. Mereka yang bertanggung jawab tentu harus dimintai pertanggungjawaban," kata Ravina Shamdasani, Juru Bicara Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia di Jenewa. Dalam laporan yang diturunkan oleh The Guardian tersebut, disebutkan kejadian pelecehan terhadap para pencari suaka.

Misalnya, ada seorang penjaga kamp yang mengancam anak-anak dan membentak-bentak mereka. Tak hanya itu, anak-anak gadis yang ingin menambah waktu mandi akan diberi izin jika ada imbalan kepada para penjaga untuk melihat mereka membersihkan diri. Dalam laporan tersebut juga diberitakan bagaimana para pencari suaka ini mengalami depresi karena tekanan yang begitu besar, terutama secara mental. Saking menderitanya, seorang wanita mencoba untuk menggantung dirinya dan seorang gadis menjahit bibirnya.
Bahkan, ada pula yang membakar diri. Berdasarkan laporan tersebut, saat ini terdapat sekitar 500 pengungsi di pusat penampungan sementara di Nauru, dengan rincian 338 pria, 55 wanita, dan 49 anak-anak. Sementara di Manus, Papua New Guinea terdapat 854 pengungsi yang seluruhnya pria. Bocoran dokumen sepanjang lebih dari 8.000 halaman tersebut juga menggambarkan berbagai serangan, pelecehan seksual, baik kepada wanita maupun anak-anak.

Libatkan Penjaga
Dalam laporan itu disebutkan ada tujuh kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak, 59 laporan serangan terhadap anak-anak, dan 159 anak yang mengancam akan menyakiti diri mereka sendiri. Laporan itu juga memuat adanya dugaan penyimpangan dan pelecehan yang dilakukan para penjaga dari Wilson Security, yang merupakan perusahaan penyedia layanan kemanan dari Australia. Seorang penasihat keamanan untuk Wilson Security diduga pernah menyatakan kepada seorang pencari suaka yang mengalami pemerkosaan bahwa, "pemerkosaan di Australia sangat umum dan pelakunya tidak dihukum." (AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya