Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SETIAP tahun, majalah bisnis dan finansial terkemuka Amerika Serikat (AS), Forbes, merilis 100 perempuan yang paling berpengaruh di dunia dari berbagai bidang.
Beberapa tokoh dari kalangan Hawa itu memiliki pengaruh yang melintasi negara mereka dan mengglobal. Baru-baru ini, majalah yang didirikan pada 1917 tersebut melaporkan urutan 10 besar dan beberapa nama yang tidak asing lagi. Bahkan, di antara mereka kerap menghiasi halaman muka media populer. Kiprah mereka selalu menjadi sorotan media massa. Meski memiliki kekuasaan yang luar biasa dan berpengaruh, bukan berarti mereka dikategorikan aman dalam posisi mereka. Dari waktu ke waktu, mereka pun tidak henti mendapat tekanan, termasuk dari publik di dalam negeri mereka. Namun, sepak terjang para perempuan itu patut mendapat acungan jempol. Kendati banyak mendapat rintangan dan tentangan, mereka seakan tidak tergoyahkan. Mereka kukuh dan pantang putus asa dalam menuntaskan persoalan-persoalan yang dihadapi. Urutan teratas dari perempuan memiliki kekuasaan dan pengaruh besar ialah Angela Merkel, 62, yang menjabat sebagai Kanselir Jerman.
Perempuan yang bernama lengkap Angela Dorothea Merkel itu menjabat sebagai kanselir sejak 2005. Merkel yang menjadi Ketua Persatuan Demokrat Kristen (CDU) ialah perempuan pertama yang memegang jabatan paling penting di negara Bavaria. Doktor bidang kimia dan fisika itu baru terjun ke dunia politik pascakeruntuhan tembok Berlin di akhir 1980-an. Ia sempat menjadi juru bicara kabinet Jerman Timur. Pada Pemilu Federal Jerman 2005, ia terpilih sebagai kanselir perempuan pertama dengan dukungan koalisi partai besar. Kini, ia telah memimpin negaranya untuk ketiga kalinya. Pengaruh dan kepemimpinan Merkel sangat terasa, tidak sebatas di negaranya. Pada 2007, ia dipilih menjadi Presiden Dewan Uni Eropa. Ia juga didaulat memimpin forum delapan negara industri yang dikenal sebagai Group 8 atau G-8. Gaya kepemimpinan Merkel terlihat menonjol ketika Yunani yang berada di benua Eropa diterpa krisis ekonomi. Tak lama setelah itu, konflik bersenjata dan berdarah di kawasan Timur Tengah dan Afrika serta ancaman kelompok Islamic State (IS) membuat gelombang pengungsi mengalir memasuki 'Benua Biru'.
Merkel yang berasal dari Jerman Timur sempat tak disukai negara sekutunya, Amerika Serikat (AS). Pembicaraannya disadap badan intelijen 'Negeri Paman Sam'. Persoalan tersebut akhirnya tuntas dengan perbaikan diplomasi antara AS dan Jerman. Kebijakan Merkel yang menuai kesuksesan ialah memperkuat hubungan ekonomi trans-Atlantik pada 30 April 2007. Ketika Eropa digoyang krisis keuangan, ia datang menjadi penyelamat, termasuk saat krisis melanda Yunani. Ia pun dijuluki sebagai the Decider atau 'sang pengambil keputusan'. Secara de facto, Merkel ialah pemimpin Uni Eropa. Itu tidaklah mengherankan. Bukan hanya tahun ini, ia juga pernah terpilih sebagai tokoh paling berkuasa kedua di dunia versi majalah Forbes pada 2012 dan 2015. Bahkan, pada Desember 2015, majalah Time juga memilih Merkel sebagai person of the year dengan julukan 'Kanselir Dunia Bebas'. Selain Merkel, ada pula Theresa May. Dia memang belum dikenal secara luas sebelumnya. Namun, setelah menggantikan David Cameron sebagai Perdana Menteri Inggris, ia tergolong perempuan yang memiliki power yang berpengaruh. Tak mengherankan dia menempati urutan kedua di majalah Forbes. Pascakemenangan kelompok pro-British Exit atau Brexit yang mengharuskan Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa, Ketua Partai Konservatif tersebut bakal memegang kendali penuh politik dan ekonomi negaranya. Namun, karena pengalamannya sebagai menteri dalam negeri sejak 2010, May telah terbiasa melakukan diplomasi. PM perempuan kedua Inggris yang menjabat perdana menteri itu kini akan memikul tanggung jawab dalam negosiasi Inggris setelah Inggris lepas dari Uni Eropa. "Tugas patriotik partai kami untuk bersatu dan untuk memerintah dalam kepentingan terbaik dari seluruh negeri, kita perlu berani, memiliki visi positif baru bagi masa depan negara kita," ucap May.
Presiden perempuan pertama
Tokoh perempuan ketiga yang disebut memiliki pengaruh kuat ialah Hillary Clinton, 68. Mantan ibu negara, senator, dan menteri luar negeri itu dua bulan lalu baru memenangi nominasi sebagai calon presiden (capres) AS dari Partai Demokrat. Pada November mendatang, ia bakal bersaing dengan capres dari Partai Republik, Donald Trump.
Jika dilihat dari sejumlah jajak pendapat, Clinton berpeluang besar menduduki Oval Office yang berada di Gedung Putih. Ia digadang-gadang bakal menjadi presiden perempuan pertama negara adidaya AS. Namun, perjalanan menuju kursi kepresidenannya tak mudah. Pesaingnya, Trump, yang dikenal sebagai tokoh kontroversial, kerap melontarkan pernyataan miring seputar Clinton. Trump menuduh Clinton gagal sebagai menlu AS yang menyebabkan kematian diplomat AS di Banghazi, Libia. Clinton disebutkan bertindak ceroboh dengan menggunakan e-mail pribadi dalam urusan luar negeri. Tidak hanya itu, Clinton dan juga Presiden AS Barack Obama disebut sebagai pendiri kelompok radikal Islamic State (AS). 'Tidak, Barack Obama bukan pendiri IS', tulis Clinton yang juga mendapat tuduhan serupa di Twitter-nya.
"Ini contoh lain ucapan sampah Donald Trump tentang AS," kata penasihat senior Clinton, Jake Sullivan, pekan lalu. Dari benua Asia, Aung San Suu Kyi, 71, disebut sebagai perempuan yang berpengaruh di dunia. Kendati partainya memenangi pemilu secara mutlak pada 2015, ikon demokrasi Myanmar itu tidak otomatis menjabat presiden. Konstitusi buatan militer melarang calon presiden yang memiliki anggota keluarga warga negara asing. Kini Suu Kyi menjabat sebagai konsuler negara utama Myanmar yang setara dengan perdana menteri dan ketua Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD). Dengan tambahan sebagai menteri luar negeri, ia sebenarnya memiliki kekuasaan yang besar. Pemerintah dan Presiden Htin Kyaw tetap berada di bawah kendalinya. Sangat wajar, kendati jabatan presiden tidak dipegangnya, Suu Kyi tetap memiliki kekuasaan besar di Myanmar. Bahkan, petinggi militer yang selama ini menjaga jarak pun mulai melakukan pendekatan terhadap Suu Kyi dalam menjalankan pemerintahan. Di balik kekuasaan yang dipegangnya, peraih Hadiah Nobel Perdamaian 1991 itu tetap mendapat hujan kritik karena putri Jenderal Uang San itu lebih banyak menjadi penonton dalam kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap etnik Rohingya. Dari benua Asia, sejumlah pemimpin perempuan tergolong memiliki pengaruh dan kekuasaan besar. Nama-nama yang mencuat masuk di 100 perempuan berpengaruh ialah Perdana Menteri Bangladesh Sheik Hasina yang menjabat sejak 2009. Selain Hasina yang menjabat perdana menteri dua periode, terdapat nama Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye Ia terpilih menjadi presiden perempuan pertama 'Negeri Ginseng' yang juga negara dengan perekonomian terbesar keempat dunia pada Desember 2012. Di belahan dunia lain, di Afrika, muncul sosok perempuan yang sangat berpengaruh. Ia Ellen Johnson Sirleaf, 77, yang menjabat sebagai Presiden Liberia pada November 2005 sekaligus presiden perempuan pertama di kawasan 'Benua Hitam'. Sirleaf dikenal sebagai sosok yang berjuang tanpa kekerasan dalam memperjuangkan perlindungan dan hak perempuan agar berpartisipasi penuh dalam bidang membangun perdamaian. Berkat prestasinya, perempuan yang dijuluki Iron Woman itu mendapat anugerah Hadiah Nobel Perdamaian pada 2011. (AFP/Dailymail/BBC/CNN/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved