Pasukan Libia Kuasai Markas IS di Sirte

Indah Hoesin
12/8/2016 00:40
Pasukan Libia Kuasai Markas IS di Sirte
(AFP PHOTO / MAHMUD TURKIA)

PASUKAN propemerintah Libia berhasil merebut markas kelompok Islamic State (IS) di Kota Sirte, Rabu (10/8) lalu. Kota utama IS itu dapat dibebaskan melalui pertempuan selama 24 jam dengan bantuan serangan udara militer Amerika Serikat (AS). Pasukan yang setia kepada Pemerintahan Kesepakatan Nasional (GNA) Libia dan didukung militer AS itu kini tinggal merebut beberapa kota yang masih dikuasai IS. "Pusat Ouagadougou sudah berada di tangan kami," ujar pusat operasi pasukan pro-GNA. Ouagadougou merupakan pusat konferensi Sirte yang dijadikan IS sebagai markas mereka. Pasukan GNA sebelumnya juga merebut Universitas Sirte yang berada di sebelah selatan pusat konferensi dan rumah sakit Ibn Sina di sebelah utara. Juru bicara pasukan GNA, Reda Issa, mengatakan IS masih menguasai tiga wilayah permukiman di kota itu dan di sebuah kompleks vila di pinggir laut. "Pengumuman kebebasan Sirte hanya akan dilakukan setelah seluruh kota dapat dikuasai," ujar Issa. Milisi IS merebut kota kelahiran mantan diktator Muammar Khadafi itu pada 2015, dan pasukan pro-pemerintah Libia memulai kembali pembebasan kota yang terletak 450 km timur Tripoli itu pada Juni lalu. Operasi merebut Kota Sirte yang berlangsung 24 jam menewaskan 16 tentara GNA. Sekitar 20 anggota IS tewas dalam pertempuran di kampus itu. Pusat Operasi GNA juga mengatakan telah kehilangan kontak dengan salah satu pesawat militer milik GNA. Namun, mereka tidak menyampaikan info lebih detail.

Kantor berita jaringan IS, Amaq, mengatakan IS telah menembak jatuh sebuah pesawat perang yang menewaskan pilot pesawat. Komando militer AS-Afrika, Rabu (10/8) lalu, mengatakan 29 serangan terhadap IS telah dilancarkan sebagai bagian dari Operasi Odyssey Lightning yang dimulai sejak Selasa (9/8). Presiden AS Barack Obama mengatakan serangan itu merupakan bagian dari kepentingan nasional AS untuk membantu GNA menumpas IS dari Sirte. Sementara itu, Kepala GNA, Fayez al-Sarraj, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Itali, Corriere della Sera, mengatakan pemerintahannya hanya meminta serangan udara yang harus sangat tepat dengan waktu dan lingkup geografis yang terbatas. "Kami tidak butuh pasukan asing di tanah Libia," ujar Sarraj.

Terkait minyak
Dukungan asing terhadap GNA ialah upaya untuk membawa stabilitas di Libia yang telah dihantui gejolak sejak Kadhafi digulingkan dan tewas pada Oktober 2011. Sejak itu, lawan-lawan politiknya berlomba merebut kekuasaan dan sejumlah kelompok bersenjata terlibat konflik untuk mengontrol sumber daya alam negeri di Afrika utara itu. Kekhawatiran negara Barat terhadap situasi di negeri itu juga terkait dengan cadangan minyak Libia. Diketahui, Libia merupakan negara pemilik cadangan minyak terbesar di Afrika. Oleh karena itu, enam negara termasuk Inggris, AS, dan Prancis juga menyerukan agar kontrol semua fasilitas minyak di Libia ditransfer atau diserahkan tanpa syarat kepada GNA. Negara-negara tersebut menyatakan keprihatinan khusus terkait dengan sejumlah laporan peningkatan ketegangan di dekat Zuetina, salah satu fasilitas minyak pesisir terbesar di Libia. (AFP/Ihs/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya