Penangkapan Gencar,Penjara Penuh Sesak

(AFP/Ihs/I-2)
09/8/2016 00:50
Penangkapan Gencar,Penjara Penuh Sesak
(AFP/NOEL CELIS)

KEBIJAKAN perang melawan kejahatan yang dicanangkan Presiden Filipina Rodrigo Duterte berhasil menangkap banyak pelaku kriminal di negeri itu, terutama pelaku kejahatan narkoba. Sejak ia menjabat sebagai presiden pada 30 Juni lalu, lebih dari 4.300 orang telah ditangkap atas kejahatan narkoba. Keberhasilan Duterte menangkap para penjahat, terutama penjahat narkoba, menimbulkan dampak lain. Penjara-penjara di negeri itu kini penuh sesak akibat masuknya ribuan penghuni baru, sementara ribuan penghuni lama masih banyak yang menunggu sidang. Salah satu penjara yang penuh sesak dan tidak layak lagi ialah penjara Kota Quezon yang terletak di sebelah utara ibu kota Filipina. Jumlah penghuni penjara itu meningkat drastis sebanyak 300 orang. Penjara yang hanya berkapasitas 800 orang di kota itu kini dihuni sekitar 3.800 narapidana. Akibatnya, para narapidana di penjara yang dibangun enam abad lalu itu harus berebut ruang. Mereka harus terlibat konflik tak berkesudahan untuk mendapatkan ruangan. "Banyak yang menjadi kurang waras. Mereka tidak bisa berpikir lurus. Ini sangat padat. Bergerak sedikit saja akan membentur sesuatu atau seseorang," ujar Mario Dimaculangan, salah seorang penghuni penjara di Kota Quezon.

Dimaculangan bahkan harus berbagi toilet dengan 130 narapidana. Para narapidana pria akan bergantian tidur di lantai semen sebuah lapangan basket terbuka, di tangga, di bawah tempat tidur, dan di tempat tidur gantung yang dibuat dari selimut-selimut usang. Tubuh para narapidana itu bertumpuk seperti ikan sarden dalam kaleng. Bahkan, banyak juga yang tidak bisa sepenuhnya berbaring atau terpaksa hanya bisa duduk. Situasi akan semakin memburuk ketika hujan turun karena para narapidana tidak bisa tidur di lapangan basket yang dikelilingi bangunan sel empat tingkat yang terbuat dari beton-beton usang itu. Pemerintah Nasional Filipina hanya memiliki anggaran harian 50 peso (US$1,10) untuk makanan dan 5 peso untuk obat-obatan para narapidana. Namun, meskipun dengan anggaran minim, para narapidana di salah satu penjara paling padat di Filipina itu tetap mendapat pola makan dengan sup, sayuran, dan daging.

Sistem pengadilan
Selain karena kebijakan baru Presiden Duterte, sistem pengadilan di Filipina menjadi salah satu faktor yang menjadi pemicu padatnya penjara di sana. Berdasarkan hasil riset University of London Institute for Criminal Policy Research, sistem pidana di Filipina berada di peringkat ketiga sistem pengadilan yang paling padat di dunia. Ini berarti waktu tunggu narapidana untuk diadili semakin panjang, sementara narapidana baru terus bertambah. Menurut data pemerintah, bahkan penjara-penjara nasional di negeri itu dihuni hampir lima kali lebih narapidana daripada kapasitas seharusnya. Menteri Kehakiman Filipina, Vitaliano Aguirre, mengatakan tengah mempersiapkan lokasi untuk penjara baru, sedangkan pengadilan Filipina telah diperintahkan untuk memprioritaskan kasus-kasus terkait dengan narkoba. Duterte tidak banyak membahas perubahan yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah kepadatan itu.

"Jika tidak ada penjara baru, tidak ada peningkatan anggaran, tidak ada tambahan pengadilan dan jaksa, sistem akan meledak. Itu akan menjadi krisis kemanusiaan," ujar seorang cendekiawan asal Filipina di Southern Illinois University, Raymund Narag, yang juga pernah menjadi narapidana di penjara di Filipina. Naraq mengatakan butuh waktu tujuh tahun bagi pengadilan untuk memutuskan dirinya bebas, waktu rata-rata persidangan di Filipina yang juga menjadi salah satu pendorong utama dari masalah kepadatan di penjara di sana.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya