Turki Berpaling ke Rusia Pascakudeta

(Dhika Winata/I-2)
04/8/2016 04:00
Turki Berpaling ke Rusia Pascakudeta
(AFP PHOTO / TURKEY'S PRESIDENTIAL PRESS SERVICE / ADEM ALTAN)

TURKI bersitegang dengan sekutu Uni Eropa dan Amerika Serikat pascakudeta gagal Juli lalu. Merasa ditinggalkan karena langkah pembersihan pascakudeta tak didukung, Presiden Recep Tayyip Erdogan memberi sinyal berpaling ke Rusia. Erdogan dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (9/8). Respons awal atas kudeta sebenarnya berpihak ke pemerintahan Erdogan. AS dan UE mengecam kudeta militer dan tetap mengakui Erdogan sebagai kepala negara yang sah. Namun, gestur solidaritas dan kesetiaan itu belakangan goyah. Pemimpin negara-negara Eropa dan AS resah dengan langkah pembersihan besar-besaran oleh rezim Erdogan dan pengumuman masa darurat karena dianggap mengancam demokrasi Turki. Kemunculan rencana pemberlakuan kembali hukuman mati juga dikecam Eropa. Kanselir Jerman Angela Merkel memvonis hukuman mati tidak sesuai dengan nilai-nilai Eropa. Pejabat UE pun memberi sinyal penundaan negosiasi keanggotaan Turki di UE seandainya hukuman itu diberlakukan. Hubungan Turki dengan AS dan UE pun turut bergolak.

Erdogan membalas dengan menuding Eropa sengaja mengulur proses keanggotaan Turki. Puncaknya, UE dituding ingkar janji soal kesepakatan pengungsi karena tak kunjung membayar insentif miliaran euro. Bagi AS, Turki ialah sekutu kunci. Pangkalan Incirlik di Provinsi Adana merupakan basis pasukan AS dan NATO. AS menggunakan pangkalan itu sebagai basis untuk menyerang Islamic State di Suriah dan Irak. Namun, masalah ekstradisi Fethullah Gulen, yang dituding sebagai dalang kudeta, akan menjadi batu sandungan. Turki mendesak Gulen segera dipulangkan. Di lain pihak, pemerintah AS menuntut bukti keterlibatan Gulen. Di tengah-tengah ketegangan dengan UE dan AS, Rusia tampil kawan mendukung pemerintahan Erdogan tanpa syarat demi menstabilkan situasi Turki meski dengan cara-cara, yang bagi UE dan AS, kelewat batas. Padahal, Kremlin dan Ankara sempat bersitegang akibat penembakan jet Rusia di wilayah perbatasan Turki, tahun lalu. Pemulihan hubungan pun seakan berjalan cepat.

Secara ekonomi, Turki dan UE saling bergantung. Pasalnya, Turki ialah peng­hubung strategis. Selat Bosphorus merupakan titik transit jalur pengiriman minyak dunia. Menurut data Komisi Eropa, se­perempat suplai ke ‘Benua Biru’ melewati Bosphorus. Di Turki juga terdapat pipa-pipa gas yang menyalurkan kebutuhan di Eropa. Di sisi lain, UE merupakan mitra dagang dan jasa terbesar bagi Turki. Secara geopolitik, Turki ialah pintu gerbang bagi Eropa dan Timur Tengah. Ribuan pengungsi dari Timur Tengah masuk lewat Turki. Karena itu, tak terbayangkan dampak yang akan terjadi bagi Eropa jika Turki didera instabilitas, apalagi krisis. Rentetan serangan bom yang melanda Turki setahun belakangan ini menggambarkan bahwa stabilitas domestik pun belum sepenuhnya terjaga. Dalam konteks seperti itulah, muncul gerakan lintas partai yang mengecam kudeta meski mereka beroposisi terhadap Erdogan. Bagi Eropa, mencegah krisis lebih penting. (Dhika Winata/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya