Kota Hantu di Antara Norwegia-Kutub Utara

MI
03/8/2015 00:00
Kota Hantu di Antara Norwegia-Kutub Utara
(AFP / DOMINIQUE FAGET)
SETELAH berlayar sejauh 50 kilometer arah utara Norwegia, sekelompok pelancong tiba di Pulau Spitzberg, Kepulauan Svalbard, Norwegia. Posisinya separuh bentang antara Norwegia daratan dan Kutub Utara. Di sanalah Alexander Romanovskiy, 33, bertugas.

Dengan mengenakan topi chapka, yakni topi khas Rusia, dan jubah hitam, lengkap dengan senjata tersampir di punggungnya, laki-laki bernama panggilan Sasha itu menyambut para turis.

Sudah empat musim Sasha bertugas di Pyramiden, yakni sebuah kota bekas pertambangan yang terletak di Kepulauan Svalbard, Norwegia. Kota itu terbengkalai sejak 1998, tapi masih menjadi milik Arktikugol, perusahaan Rusia.

"Uni Soviet membeli pertambangan batu bara di sini pada 1927 dari Swedia. Gelombang pertama penduduk datang pada 1936, tapi dievakuasi pasukan Inggris saat Perang Dunia II dimulai. Jadi, kegiatan penambangan baru dimulai pada 1956. Saat itu masih perang dingin dan Soviet diperintah Nikita Khrushchev," jelas Sasha kepada pelancong.

Rel-rel kereta yang dulu digunakan para penambang menuju gunung masih ada. Begitu pula kereta gandeng yang pernah digunakan untuk mengangkut batu bara. Bangunan gelanggang olahraga di sana pun masih bertahan, termasuk deretan foto-foto berbingkai di lorong yang menampilkan ajang-ajang pertandingan sepak bola, hoki, dan catur.

Sasha bukan sekadar penjaga di Pyramiden, melainkan juga pemandu. Senapan yang dia bawa, kata dia, "Untuk menghalau beruang kutub." Menurut Sasha, pada 1970-an dan 1980-an, Pyramiden menggeliat. Sekitar 1.200 warga Rusia tinggal di Pyramiden saat itu.

Fasilitas pun berkembang, termasuk beberapa bangunan berlantai empat, sebuah rumah sakit, sekolah, lapangan sepak bola, bahkan sebuah peternakan sapi dan ayam.

Lalu datanglah 1990-an. Uni Soviet mulai retak. Pertambangan di Pyramiden mulai tidak menghasilkan profit. Moskow pun tidak mampu lagi membayar upah para pekerja. Akhirnya, pada 1998, perusahaan mengumumkan perusahaan tambang ditutup. Kota Pyramiden pun ditinggalkan para penghuninya.

Namun, kini, sudah beberapa tahun belakangan, Pyramiden justru menjadi destinasi wisata yang menggelitik rasa penasaran para pelancong. Pada 2007, salah satu bangunan yang tadinya terbengkalai dijadikan hotel dengan 24 kamar.

Setiap musim panas datang, Pyramiden menerima kunjungan turis. Sasha datang ke sana setiap Maret. Untuk musim panas tahun ini, delapan warga Rusia dipekerjakan di Pyramiden untuk mengelola operasional hotel itu, termasuk mengurus sistem generator listrik dan penghangat air, juga dua pemandu.

Selain Sasha, ada pula Pavel Arkharov, 26, yang setiap musim panas bekerja di Pyramiden. Meskipun Pyramiden sunyi, Arkharov tidak merasa gelisah di 'kota hantu' itu. "Sama sekali tidak meresahkan. Di sini amat damai. Sungguh, tempat yang harmonis," kata dia.(AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya