Presiden Erdogan Tuduh Barat Dukung Kudeta

Irene Harty
03/8/2016 19:18
Presiden Erdogan Tuduh Barat Dukung Kudeta
(AFP)

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam negara Barat akibat kudeta Turki yang gagal pada bulan lalu. Erdogan menuduh negara Barat mendukung teror dan menuntut Washington mengekstradisi seorang imam dalang kudeta, Fethullah Gulen, meski diacuhkan.

Kudeta 15 Juli dianggap 'skenario yang tertulis dari luar' oleh aktor dalam sebagai kiasan keterlibatan asing menurut Erdogan yang menyalahkan AS sebagai tempat tinggal Gulen. Sejak kudeta, Erdogan menangkap lebih dari 18 ribu orang dan menembak ribuan lainnya dan terakhir membereskan asosiasi sepak bola Turki dan staf medis di RS Militer Ankara.

Pembersihan itu sebagai gambaran respon keras Erdogan dan menjadi alarm bagi Barat. "Sayangnya Barat mendukung teror dan berdiri pada kubu kudeta," ungkapnya.

Salah satu sebabnya, otoritas hukum Jerman sempat tidak mengizinkannya memutar video dukungan di Cologne dan mengatakan Berlin telah mengizinkan lewat Partai Pekerja Kurdistan. Tuduhan campur tangan Barat dalam kudeta dibawa dari oknum nakal di militer.

Erdogan dalam wawancara di Mexico Televisa mengatakan Washington telah buta dan tuli untuk tidak memahami Gulen ada di belakang semua ini. "Jika kami meminta ekstradisi dari teroris maka kamu harus memenuhinya," lanjutnya.

Senin (18/7) Sekretaris Negara US, John Kerry mengatakan bahwa Turki harus menghadirkan 'bukti jaminan' dan 'bukan tuduhan' melawan ekstradisi imam Muslim. Apalagi gagalnya kudeta terjadi saat ketegangan dua kubu NATO dengan beberapa menteri yang mana memperlihatkan campur tangan Washington jadi 'menggelikan'.

Ankara telah dijaga 50 polisi sejak Selasa lalu termasuk RS Gulhane Military Medical Academy (GATA). Lalu mengenai penahanan 98 staf yang diduga pendukung Gulen juga dilakukan serta penyerangan kepada 94 karyawan termasuk wasit dan asisten wasit dikonfirmasi oleh Federasi Sepak Bola Turki.

"Pemerintah juga melakukan penyusuran dalam semua institusi negara merampok 10 dari 100 PNS, dalam rangka membersihkan virus dan ancaman Gulenis dari institusi negara," ungkap Perdana Menteri Turki, Binali Yildrim. Kemudian 36 orang lainnya yang dianggap memiliki hubungan dengan Gulen dituduh dengan skandal video seks.

Menteri Hukum Turki, Bekir Bozdag telah mengirimkan dokumen terbaru Gulen pada Selasa (2/8) sambil mengatakan, "Dia butuh ditahan secepatnya sebelum lari ke negara dunia ketiga sesuai intaian kami." Gulen yang tinggal di AS sejak 1999 menolak segala keterlibatannya dalam kudeta. (AFP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya