Antara Nyawa dan Kehormatan Keluarga

Haufan Hasyim Salengke
02/8/2016 08:30
Antara Nyawa dan Kehormatan Keluarga
(Beberapa pelaku 'Honour Killing' yang berhasil dibekuk Polisi Pakistan---AFP/SHAKEEL AHMED)

AWAL Juni lalu, panggilan telepon masuk ke ponsel Samia Shahid. Di ujung sana, seorang anggota keluarganya di Pakistan dengan nada serius mengabarkan berita bahwa ayahnya sedang sekarat di rumah sakit.

Keluarga meminta perempuan berusia 28 tahun itu segera terbang ke Pakistan untuk berkumpul di samping tempat pembaringan ayah mereka sebelum semuanya terlambat.

Kabar itu membuat Samia yang tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab, bimbang. Di satu sisi, dia khawatir keadaan ayahnya. Namun, di sisi lain, suaminya, Mukhtar Syed Kazam, melarangnya untuk kembali ke kampung halaman. Alasan sang suami, dia khawatir atas keselamatan perempuan yang telah mengisi hari-harinya selama dua tahun terakhir itu. Maklum, perkawinan mereka tak direstui orangtua Samia. Menurut Mukhtar, istrinya memeluk Syiah sebelum pernikahan mereka, sesuatu yang membuat orangtua Samia tidak setuju dan marah besar. Di Pakistan, mereka yang dianggap mencoreng kehormatan keluarga bisa kehilangan nyawa.

Kekhawatiran Mukhtar beralasan dan terbukti benar. Enam hari setelah mendarat di Bandara Internasional Islamabad, Samia ditemukan tewas di tangga bermarmer ubin di rumah sepupunya di Desa Pandori di Provinsi Punjab. Mukhtar yakin istrinya ialah korban terbaru dari epidemi 'honour killing' atau pembunuhan demi 'kehormatan', yang telah terjadi di Pakistan selama bertahun-tahun.

"Orangtua Samia tidak menyetujui mereka. Dia tewas pada 20 Juli. Samia telah dibunuh demi kehormatan," kata Aqil Abbas, pejabat polisi setempat, mengutip pengaduan Mukhtar.

Pembunuhan demi 'kehormatan' ialah sebuah kebiasaan seseorang yang membunuh kerabatnya karena membawa aib keluarga. Itu hampir terjadi saban hari di Pakistan. Lebih dari 1.096 kasus serupa dilaporkan tahun lalu meskipun jumlah korban bisa jauh lebih besar. Polisi mengatakan Mukhtar dan Samia, yang sama-sama mengantongi dua kewarganegaraan Inggris-Pakistan, telah menikah selama dua tahun dan tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab. Kata polisi, itu pernikahan kedua bagi Samia.

Di bulan yang sama, kasus semacam itu juga merenggut nyawa bintang media sosial, Qandeel Baloch. Dia dihabisi kakaknya yang mengatakan itu dilakukan demi 'kehormatan'. Insiden itu membuat komunitas internasional shocked.

Baloch, yang dipuji banyak kaum pemuda di Pakistan karena kesediaannya memecahkan tabu sosial tapi dikutuk kalangan konservatif, mati dicekik di dekat Kota Multan, kata polisi.

"Qandeel Baloch telah tewas. Ia dicekik sampai mati oleh kakaknya. Tampaknya itu insiden pembunuhan demi kehormatan," ujar Sultan Azam, perwira polisi senior di Multan.

Mukhtar mendesak pemerintah Inggris dan Pakistan untuk melakukan investigasi dengan komprehensif dan memastikan istrinya yang telah tiada mendapatkan keadilan.

Permainan politik
Ayah Samia, Mohammad Shahid, yang membantah terlibat dalam pembunuhan dan mengklaim putrinya meninggal normal, sempat ditangkap sebentar, lalu kemudian dibebaskan setelah intervensi dari seorang politisi lokal.

Mantan suami Samia, Mohammad Shakeel, dan sepupu korban, Mobeen Mohammed, diduga ikut terlibat dalam pembunuhan itu.

"Kepala Menteri Punjab, Shahbaz Sharif, saudara Perdana Menteri (PM) Pakistan Nawaz Sharif, telah membentuk sebuah komite khusus yang juga bertugas menyelidiki pembunuhan itu," ujar seorang pejabat senior pemerintah kepada AFP.

PM Sharif juga telah menyatakan perhatiannya terhadap kasus itu dan mengatakan tidak ada tempat dalam Islam untuk membunuh atas nama kehormatan keluarga.

Fenomena pembunuhan seperti ini telah membuat Pakistan terpolarisasi dan meningkatkan tekanan terhadap politisi agar mengambil tindakan. Ratusan 'Samia' lain telah terbunuh selama bertahun-tahun.

Dua pekan lalu, seperti diwartakan The Guardian, Kementerian Hukum Pakistan mengumumkan rancangan undang-undang yang bertujuan memecahkan celah yang memfasilitasi 'pembunuhan demi kehormatan' akan segera disetujui parlemen.

Sementara itu, para kelompok pegiat hak asasi manusia (HAM) dan politisi selama bertahun-tahun telah menyerukan hukum yang lebih keras untuk menindak pelaku kekerasan terhadap perempuan di Pakistan. Mayoritas korban 'honour killing' ialah kaum hawa, yang mencapai 500 orang per tahun.

Ribuan nyawa
Laporan independen oleh Human Rights Commission mengungkapkan hampir 1.100 perempuan tewas di Pakistan tahun lalu, yang diduga dibunuh kerabat mereka atas nama kehormatan atau membawa aib bagi keluarga.

Dalam laporan tahunan mereka, komisi itu menunjukkan sekitar 900 perempuan mengalami kekerasan seksual dan hampir 800 kaum hawa melakukan atau mencoba bunuh diri.

Pada 2014 sekitar 1.000 perempuan tewas dalam serangan atau kekerasan terkait dengan kehormatan, melonjak dari tahun sebelumnya yang berjumlah 869 orang. Para wartawan mengatakan data bisa lebih besar karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

"Penyebab utama pembunuhan ini pada 2015 ialah sengketa internal, dugaan hubungan terlarang, dan pemberlakukan hak memilih dalam pernikahan," kata laporan itu. "Sebagian besar dari 1.096 korban meninggal karena ditembak, tapi serangan dengan zat kimia juga umum," tambahnya.(AFP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya