Menantang Maut dari Langit

AFP/Daily Mail/Aya/X-9
01/8/2016 07:01
Menantang Maut dari Langit
(Mondelez International via AP)

DUA tahun lalu tidak terpikirkan oleh Luke Aikins, 42, untuk terjun bebas dari ketinggian ribuan meter tanpa menggunakan peralatan pengaman. Aksi menjemput maut itu hampir mustahil dilakukan karena senekat-nekatnya Aikins, ia punya istri dan anak laki-laki berusia empat tahun yang merintangi.

Ide gila tersebut pertama kali dilontarkan kawan Aikins, Chris Talley, yang juga seorang penerjun bebas. "Saya tertawa dan saya mengatakan, 'Oke, luar biasa. Saya akan membantumu mencari orang untuk lakukan hal itu, tapi bukan saya. Saya punya istri dan anak'," kata Aikins.

Namun, beberapa minggu berselang, Aikins berubah sikap. Ia setuju melompat dari ketinggian 7.620 meter tanpa parasut atau pengaman lain. Selama satu setengah tahun, ia berlatih terjun 18 ribu kali guna meraih hasil sempurna.

Pada Sabtu (29/7), Aikins yang sempat menjadi pemeran pengganti di film Ironman 3 membuktikan kepiawaiannya. Ia terjun selama 2 menit dengan kecepatan 193 km per jam dan dengan mulus mendarat di jaring berukuran 30 x 30 meter yang dibentangkan di Simi Valley, California, AS.

Aksi itu ditayangkan langsung di stasiun televisi Fox. Aikins pun menjadi orang pertama di kolong langit yang melakukan aksi spektakuler tersebut. "Perhatikan ilmu dan matematika di belakang ini semua dan saya akan menunjukkan bahwa ini semua mungkin terjadi," kata pemilik sekolah terjun payung Skydive Kapowsin di Tacoma, Washington DC, itu sesaat sebelum terjun.

Di ketinggian 3.048 meter pertama, Aikins menggunakan tangki oksigen. Ia didampingi tiga penerjun di ketinggian 1.524 meter pertama. Satu penerjun bertugas mengumpulkan tangki oksigen yang habis digunakan Aikins, satu lainnya memegang kamera, dan yang lain menyalakan asap agar terlihat oleh penonton dari bawah.

Baru di ketinggian 1.524 meter ketiga penerjun pendamping melebarkan parasut dan meninggalkan Aikins. Mereka membiarkan Aikins sendirian menyelami langit sekaligus menantang maut.

Sedikit saja salah perhitungan, Aikins terempas ke bumi. Sedikit saja pendaratannya melenceng dari sasaran, ajal akan meng-hampiri. Namun, Aikins men-darat dengan sempurna dengan nyawa tetap melekat di raga.

Seusai mendarat, Aikins yang memulai terjun payung di usia 12 tahun memeluk istri dan keluarganya yang hadir. Kecemasan teramat sangat yang menyelimuti mereka berubah menjadi kegembiraan luar biasa. "Saya hampir melayang. Ini sangat luar biasa. Saya bahkan tidak bisa mengatakan apa yang ada di mulut saya. Sangat luar biasa," tandas Aikins.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya