Militer Turki Dirombak

Indah Hoesin
29/7/2016 00:30
Militer Turki Dirombak
(Hakan Goktepe/Pool Photo via AP)

PEMERINTAH Turki bakal mengubah komposisi militer mereka. Langkah tersebut dilakukan setelah ada upaya kudeta yang dilakukan sejumlah prajurit pekan lalu.
Upaya pengambilalihan kekuasaan yang gagal itu telah mengakibatkan ribuan tentara ditangkap, termasuk dari jajaran perwira tinggi. Tak hanya itu, rezim yang berkuasa juga melibas semua yang dianggap lawan politik, termasuk dosen, hakim, juga wartawan. Tadi malam, Perdana Menteri (PM) Turki Binali Yildirim bertemu dengan komandan pasukan militer. Pada pertemuan Dewan Agung Militer (YAS) di Ankara tersebut, selain PM Yildirim, juga hadir komandan angkatan laut (AL), darat (AD), dan udara (AU), serta tokoh-tokoh penting lainnya. Pertemuan itu akan memutuskan perubahan personel yang dibutuhkan pascakudeta. Mereka yang berpangkat rendah diharapkan akan segera mengisi kekosongan di posisi atas.

Sebagai simbol melemahnya kekuatan militer, pertemuan digelar di Istana Cankaya di Ankara dan bukan di markas tentara. Pertemuan dilakukan setelah pemerintah mengumumkan pembubar-an militer secara masal dan menutup ratusan kantor media di Turki. Melalui sebuah dekret yang dikeluarkan Presiden Recep Tayyip Erdogan beberapa waktu lalu, pemerintah Turki memecat 87 jenderal AD, 30 jenderal AU, dan 32 komandan AL secara tidak hormat. Mereka dianggap terlibat upaya kudeta 15 Juli lalu. Selain para perwira, ribuan prajurit yang terlibat juga dipecat. Pihak militer Turki berkeras dari sekitar 3/4 juta total personel, hanya sedikit yang terlibat dalam kudeta. Jumlah persisnya ialah 8.651 personel militer, yang berarti hanya 1,5% dari total jumlah pasukan yang dimiliki negara itu. Sarana tempur yang digunakan untuk upaya kudeta itu berupa 35 pesawat, 37 helikopter, 74 tank, dan 3 kapal laut.

Namun, jumlah jenderal yang ditangkap terkait upaya kudeta gagal itu relatif banyak, yakni 178 jenderal atau hampir setengah dari 358 jenderal yang dimiliki negara tersebut. Menurut Berat Albayrak, anak tiri Erdogan yang menjabat menteri energi, pengaruh Fethullah Gulen, ulama Turki yang dituding sebagai dalang kudeta, telah menyusup ke tubuh militer, khususnya di kalangan jenderal. "Secara kuantitas masalahnya memang kecil, tapi secara kualitas cukup berat," ujar dia soal keterlibatan tentara dalam kudeta berdarah itu.

Berangus media
Tak hanya kalangan militer, para pekerja media juga jadi sasaran pembersihan yang dilakukan rezim Erdogan. Rabu (27/7) lalu, 3 kantor berita, 16 stasiun televisi, 23 radio, 45 koran, 15 majalah, dan 29 penerbit diperintahkan untuk ditutup. Meski tak memberikan secara jelas nama-nama media yang akan ditutup, menurut siaran CNN Turki sejumlah nama media nasional ada di daftar tersebut, termasuk kantor berita Cihan serta IMC TV yang merupakan televisi pendukung Kurdi, surat kabar harian oposisi Taraf dan koran Zaman. Minggu lalu, pihak berwenang juga telah mengeluarkan surat penangkapan untuk 42 jurnalis dan dilanjutkan dengan perintah untuk membekuk 47 eks pekerja di surat kabar Zaman yang dianggap pendukung Fethullah Gulen, Gulen yang telah lama bermukim di Amerika Serikat menolak tuduhan itu dan berharap pemerintah AS jangan mau ditekan pemerintah Turki untuk mengekstradisi dirinya. (AFP/AP/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya