Ribuan Tahanan Diampuni

AFP/AP/Aya/I-3
31/7/2015 00:00
Ribuan Tahanan Diampuni
(AFP/YE AUNG THU)
PEMERINTAH Myanmar membebaskan 6.966 tahanan di Myanmar, kemarin.

Sebanyak 210 tahanan yang dibebaskan itu ialah warga negara asing.

Pembebasan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengampunan atau amnesti besar-besaran yang dilakukan pemerintahan Presiden Thein Sein yang selama ini dituduh menjalankan pemerintahan represif selama lima dekade.

Para tahanan yang dibebaskan di antaranya 155 pekerja asal Tiongkok yang divonis penjara seumur hidup terkait dengan penebangan ilegal dua pekan lalu.

"Sebanyak 155 penebang liar asal Tiongkok telah dipindahkan ke gedung imigrasi pagi ini," kata pegawai penjara Myitkyina yang tak mau menyebutkan identitasnya.

Dalam laman Kementerian Informasi Myanmar, pemerintah berharap pembebasan tahanan Tiongkok itu dapat menjaga hubungan baik Tiongkok dan Myanmar.

Para tahanan asal 'Negeri Tirai Bambu' yang dibebaskan dinilai telah bersikap disiplin selama ini.

Selain itu, sebanyak delapan mantan pejabat intelijen militer yang ditahan lebih dari satu dekade lalu pun turut dibebaskan.

Salah satunya ialah pensiunan Brigjen Than Tun yang pernah menjabat perwira penghubung antara mantan pemerintah militer dan Aung San Suu Kyi, pemimpin prodemokrasi saat menjadi tahanan rumah.

Hingga saat ini, belum ada laporan apakah aktivis prodemokrasi masuk daftar para tahanan yang dibebaskan.

Kebanyakan tahanan yang dibebaskan merupakan pelaku kriminalitas. Salah satu keluarga penerima ampunan mengatakan tidak mendapatkan daftar resmi tahanan yang dibebaskan.

Di sisi lain, hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan masyarakat Myanmar mengkritik kebijakan pemerintahan Thein Sein.

Mereka mengatakan pemerintah mengalami kemunduran dalam upaya reformasi politik.

Sejumlah pengamat menilai pengampunan tersebut yang dilakukan pemerintah Thein Sein sebagai upaya mencari simpati internasional dan meredakan kecaman internasional.

Myanmar juga tengah menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat (AS).

Kendati dikritik, rezim Thein Sein yang memerintah sejak 2011 telah melakukan sejumlah reformasi.

Selain pemberian pengampunan pada tahanan politik, Thein Sein memberi kesempatan partai oposisi pendukung Aung San Suu Kyi mengikuti pemilu parlemen.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya