SETELAH pemerintah Korea Selatan mengumumkan penyakit sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) sudah berakhir di negara itu pada Selasa (28/7), berbagai pihak optimistis perekonomian 'Negeri Ginseng' cepat kembali pulih, khususnya di industri pariwisata. Pendapat itu disampaikan Director Disease Control Policy Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korsel Jae Yong-lee, Executive Director Medical Tourism Center Se Mann-kim, Executive Vice President for International Tourism Jaesung-rhee, Director Newsroom Social Policy stasiun televisi YTN Gi Bong-kim, dan direktur surat kabar The Chosunilbo Kim Chul-joong kepada sejumlah wartawan dan dokter Indonesia, di Seoul, Korsel, kemarin.
Seperti dilaporkan wartawan Media Indonesia Rosmery Sihombing dari Seoul, pertemuan yang diprakarsai Korea Tourism Organization (KTO) itu dimaksudkan untuk melihat langsung bagaimana Korsel betul-betul berhasil mengendalikan penyakit yang sudah menewaskan 36 orang itu. Sejak merebaknya wabah MERS di Korsel, pemerintah hanya butuh 70 hari untuk mengendalikan penyakit yang menyerang paru tersebut.
Sejak pengumuman tersebut, status di Korsel juga turun dari awas menjadi waspada dan prosedur emergency operation center (EOC) juga sudah berjalan sangat baik. Keberhasilan itu, menurut KTO, tidak terlepas dari peranan media massa setempat yang setiap hari memberitakan kasus MERS dan meminta pemerintah terbuka dan tidak menyembunyikan informasi penting kepada masyarakat.
Gi Bong-kim dan Kim Chul-joong mengakui semua media massa Korea memberitakan kasus MERS secara objektif berdasarkan fakta. Terkait dengan terganggunya industri pariwisata, KTO mengatakan selama Juni saja ada penurunan 40% lebih. Dari Indonesia yang setiap tahun sekitar 300 ribu orang berkunjung ke Korea, jumlah itu turun 31,1%.
"Untuk Juli belum dihitung, kami berharap Agustus kembali naik," ujar Direktur KTO di Jakarta Oh Hyeon-jae, yang mendampingi rombongan Indonesia. Optimisme KTO itu bukan tanpa alasan bila melihat kesungguhan pemerintah menangani MERS. "Wabah MERS telah memberi pelajaran berharga bagi kami. Kini kami sadar bahwa tidak ada satu negara pun yang kebal terhadap infeksi penyakit. Untuk itu, kami sudah membenahi sistem informasi dan siap bekerja sama dengan berbagai pihak baik dalam maupun luar Korea untuk mengantisipasi adanya wabah lain di masa mendatang," imbuh Jae Yong-lee.
Bahkan, lanjutnya, informasi terkait dengan MERS di Korsel bisa diakses secara daring dan tersedia dalam bahasa Korea, Inggris, Jepang, dan Tiongkok. Sejak kasus pertama muncul pada 20 Mei 2015, menurut pemberitaan di media-media Korsel, kerugian materi negeri itu mencapai 4 triliun won.